30.10.15

Analogi : Biru



Air beriak, tanda tak dalam
Ia teriak, ia tenggelam
Ia terisak, ia terdiam
Perih, katanya
Sedih, rasanya
Ia hanyut terbawa kenangan
Ia larut terpaku angan


Lalu ia biarkan waktu berlalu
Sehari, Seminggu, Sebulan, Setahun
Bahkan lebih
Hanya meredam rasa perih


Sudah ia biarkan semua berlalu
Hasilnya?
Ia menemukan dirinya
Disini, kembali


Angin membelai rambutnya lembut
Debur ombak mengisi heningnya fajar
Ia mendengus
Ia memekik


Berdiri menghadap cakrawala
Bertumpu dengan nostalgi
Secercah harapan, segelintir rasa

Aku menatap
Aku meratap
“Biarkan langit sebiru rasamu” kataku
“Laut sudah biru, mengapa harus ditambah langit?” katanya

Dan disini pula ku temukan
Diriku, bukan, seluruh raga dan jiwaku
Menemaninya
Mendukungnya
Menjaganya
Ia yang masih terjebak masa lalu
Dan aku
Yang masih terjebak menyayanginya
Tidak Aku tidak terjebak
Aku hanya menyayanginya
Sangat menyayanginya


Pelik
Ingin pula aku memekik
“Adakah artiku?”
“Tak bisa kah ku hapus masa lalumu?”


Namun kusadari
Aku hanya menjadi pantai baginya
Tidak akan pernah menjadi laut
Atau samudera
Aku hanya tempat untuk singgah
Bukan untuk diarungi


Ia singgah di pantai
Ia terus menatap laut
Ia terus mendambakan samudera
Dan aku yang terus menyayanginya


Pria yang tenggelam di masa lalu

6.9.15

Lessons learned

Saya menangis dua kali hari ini karena dua hal
Hal pertama, karena menyadari betapa ignorantnya saya
Hal kedua, karena menyadari bahwa this world is not okay, and never be (yet)

1.
Entah mungkin hanya otak saya yang berpikir semua itu berjalan how it's supposed to be. Seperti takdir sudah menentukan jalan apa yang akan diambil, tindakan apa yang sesuai, dan siapa yang menerimanya. Oke, karena saya yakin apa yang baru saja anda baca sulit untuk dicermat, saya akan mencoba mengulangnya sekali lagi kali ini dengan lebih ringkas dan mudah dicerna. Saya berpikir bahwa tindakan saya adalah what it is. Semua berjalan otomatis, saya yakin bahwa tindakan saya otomatis diterima orang lain karena status dan peran mereka terhadap hidup saya. Dan itu adalah kesalahan besar. No matter who they are, mereka adalah individual human being. Mereka punya perasaan yang tidak semerta-merta secara otomatis menerima tindakan. Sebagai contoh, kesalahan saya kepada adik saya. Saya berpikir karena dia adik saya, dia dapat menerima saya sebagaimana adanya, seburuk apapun itu. Kebiasaan saya adalah ketika saya marah, saya menjadi diam dan jutek, menjawab dengan ketus. Dan kebiasaan itu yang harus diterima oleh adik saya, dan saya menganggap bahwa dia sanggup menerimanya. Saya berpikir, atau bahkan tidak berpikir, saya hanya merasa bahwa he's gonna be fine with that because he's my brother. Dan hari ini ia membuktikan bahwa he's not fine at all. And worse, i don't realize it, not even ever crossed my mind. 
And i asked myself,"how can you be such an ignorant bitch all this time?"
And then i cry
Not only because what i've done, but also the way i never think about it 
I never want to hurt anybody
But still, i hurt somebody without realising it
And it makes me cry harder
But crying is not the solution, saya kemudian merefleksikan diri, apa saja yang telah saya perbuat, dan kepada siapa saya melakukannya. Dan saya menyadari betapa tidak sadarnya saya telah menyakiti orang lain.
The idea of hurting people hurts me the most.

Hurt disini bukan saya menampar atau memukul seseorang, namun menyakiti hatinya, batinnya, perasaanya, pikirannya, yang tidaklah lebih baik daripada menyakiti fisiknya. Hal yang bisa diambil bagi saya, anda, siapa saja adalah jangan pernah lupa bahwa setiap orang merupakan invididu yang mempunyai perasaan dan batas masing-masing. Mau apapun peran dan status mereka bagi kita, ayah, ibu, adik, kakak, sahabat, pacar, orang terdekat, mereka adalah diri mereka sendiri. Jangan merasa karena kita adalah anak dari ibu kita, kita menganggap bahwa mereka akan menerima saja perlakuan kita. Ya, mereka mungkin nggak akan ngomong secara gamblang, tapi mereka tetap merasakannya.

For anyone that has been hurt by me, i'm sorry. I mean it, i really really sorry.

Bukan berarti kita harus menjadi orang lain,
It's okay to be who you are, but never be an ignorant person.

Semakin dewasa, semakin kita mencoba mengenal diri kita lebih baik. Tidak hanya apa potensi terbaik kita, namun juga mengetahui keburukan yang kita miliki.
Dan mulai sekarang saya mencoba dan berusaha, menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


2. Saya baru saja menghabiskan satu setengah jam "menyiksa" diri saya sendiri dengan menonton film No Escape. Rasanya hati saya tercabik saat menonton film tersebut. Despite the review, great or not, this film makes me think hard. Membuat saya melihat diri saya sebagai orang yang kurang berguna.
Sebelum menjelaskan lebih lanjut, saya akan memberikan sedikit sinopsis dari film No Escape. Film No Escape menceritakan Jack (Owen Wilson) yang memboyong keluarganya dari Texas untuk pindah ke third world di wilayah Asia Tenggara untuk bekerja pada perusahaan air bersih asal Amerika. Ternyata perjanjian air bersih tersebut mengakibatkan pemberontakan dan membunuh perdana menteri negara tersebut. Para pemberontak pun merusak kota dan memburu target mereka, yaitu orang asing khususnya Amerika yang dianggap telah menjajah dan membohongi mereka. Penonton akan disuguhkana adegan Jack, Istrinya, dan kedua anak perempuannya mencoba menyelamatkan diri dari negara tersebut.
Beberapa adegan begitu menampar saya keras, a wake-up slap.

(WARNING! THIS MAY CONTAIN SPOILER)

Adegan yang menohok saya adalah ketika Hammond (Pierce Brosnan) seorang ekspatriat mengatakan bahwa dirinya lah yang mengakibatkan pemberontakan terjadi, para ekspatriat seperti dirinya. Para ekspatriat datang dengan bersahabat, mencuri hati para petinggi negara. Kemudian melakukan kerjasama hal-hal penting bagi negara itu, sarana air bersih, jembatan, apapun yang sebenarnya tidak penting bagi para ekspatriat tersebut. Memberikan pinjaman dengan mudahnya, padahal mereka tau bahwa negara tersebut tidak akan sanggup membayarnya. Kemudian setelah negara tersebut terlilit utang, they eventualy owns it. Bentuk penjajahan modern. Itulah kutipan dialog film yang saya interpretasikan.
Tidak, adegan tersebut tidak menampar saya karena saya berada pada sisi para ekspatriat. Namun menyadarkan saya bahwa negara-negara penanam modal itu butuh disadarkan bahwa kerakusan mereka adalah bumerang. Menyadarkan bahwa sesungguhnya upaya penjajahan masih ada.
Saya berpikir ringkas, kenapa? apakah tidak bisa hanya bekerja sama?
Bisa, sebenarnya bisa jika salah satu pihak tidak rakus. Namun, sangat disayangkan bahwa rakus adalah salah satu sifat manusia yang sulit terelakkan.

Adegan lain, ketika wanita menjadi korban, tidak hanya jiwa mereka yang direnggut namun juga kehormatannya. Ketika Annie (Lake Bell) mencoba menyelamatkan suaminya Jack dan mengakibatkan dirinya ditangkap oleh para pemberontak. Kemudian para pemberontak tersebut mencoba memperkosanya. Dan yang lebih menyayat, mereka membuat Jack menyaksikannya. Thank god hal tersebut tidak terjadi karena Hammond menyelamatkan mereka di waktu yang tepat. Sebagai seorang wanita, saya begitu meringis, meradang melihatnya. Bahwa hal tersebut adalah kenyataan  yang terjadi membuat perasaan saya perih. Saya tidak melihat diri saya sebagai seorang feminist, namun mau apapun jenis kelamin anda jika anda memiliki perasaan, hal tersebut tidak manusiawi. Lust, sifat manusia lainya yang sangat disayangkan dan tidak terelakan. Rasanya lebih baik mati dengan kehormatan, namun kadang pilihan itu tidak ada.

Sebenarnya saya menangis bukan hanya karena film tersebut, tapi saya menyadari bahwa apa yang terjadi di film tersebut juga tengah terjadi pada dunia ini, detik ini.
And it crushed my feelings.

Ketika saya membaca berita-berita mengenai pengungsi Suriah yang tengah mencoba menyelamatkan diri ke Eropa membuat saya membayangkan apa yang tengah terjadi di negara tersebut. Mereka terusir dari negeri mereka sendiri. Dan tidak diterima oleh negara lain. Namun berita terakhir yang saya baca adalah akhirnya pemerintan Hungaria membantu para pengungsi (yang diberita disebut imigran) untuk berangkat menuju Austria agar dapat memulai kehidupan baru. Berita lain yang menyayat hati adalah terdamparnya seorang mayat anak laki-laki berusia 3 tahun di perairan Turki. Anak malang tersebut adalah salah satu korban dari mereka yang tenggelam di perairan mediterania yang tidak berhasil menyelamatkan diri. 

Membaca headlines BBC Indonesia "Bocah Tiga Tahun Membayangi Kebijakan Dunia pada G20" membuka mata saya. Saya mengutip pidato Perdana Menteri Turki, Davutoglu. 

"Tubuh bocah tiga tahun itu adalah peringatan bagi kita. Jika anak-anak di Suriah tidak aman, maka anak kita tidak akan aman di Ankara, Paris atau New York. Karena anak-anak ini tidak bisa memutuskan dimana mereka lahir, ini takdir. Tapi keputusan kitalah (dalam membuat kebijakan) yang akan menentukan nasib mereka di masa depan,"

Ketika anak-anak yang menjadi korban, bukan hanya diri mereka yang meninggal, namun generasi mereka juga akan mati. Untuk menghancurkan suatu bangsa, tidak perlu menghabisi para petinggi, dengan membunuh generasi muda, maka habis pula masa depan suatu negara. Oleh karena itu, perlu kesadaran bahwa anak-anak adalah masa depan yang perlu dilindungi.

Dan hal lain yang membuat saya meringis, lagi-lagi how ignorant am i. 
Saya mempermasalahkan hal-hal yang buat teman-teman saya seperti di Suriah adalah hal-hal tidak penting.
Saya pusing memikirkan baju apa yang akan saya kenakan besok, sedangkan mereka memikirkan apakah mereka masih bisa bertahan hingga besok.
Saya stress membayangkan tugas-tugas kuliah saya, sedangkan mereka memikirkan keberadaan anggota keluarga mereka yang tidak dapat melarikan diri dari negaranya.
Saya sedih melihat berat badan saya yang naik, sedangkan mereka sedih melihat adik-adiknya mengais remah roti di jalan karena kelaparan.

Hal ini mendukung saya menjadi pribadi yang lebih berguna bagi orang lain, atau setidaknya tidak merugikan orang lain. 
Mungkin bumi ini tidak baik-baik saja, dan mungkin tidak akan pernah baik-baik saja. Namun keinginan saya adalah kehidupan saya berarti bagi orang lain. Saya ingin meninggalkan jejak bagi mereka yang dilanda kesusahan dapat mengikuti dan membantu mendapatkan awal baru. Saya ingin diri saya berharga, bukan karena harta atau jabatan yang saya miliki, namun karena saya bisa berguna bagi orang banyak.
Tidak, saya tidak mendeklarasikan diri saya menjadi Mother Theresa dan menginginkan hadiah Nobel. Saya hanya ingin menjadi manusia yang berguna, menjadi manusia yang seutuhnya.



4.7.15

Bosanbo

Karena saya orangnya cepat bosan. Saya iseng aja jawab-jawab pertanyaan kayak di blog Yara


1. What was the last book you read? 
= Mari Membuat Film - Heru Effendy hyakakakak

2. Do you like roller coasters? 
= Yes

3. Day or night? 
= Night perhaps

4. What do you hear right now? 
= Suara TV di ruang tengah

5. What would you name your son or daughter if you had one? 
= Perpaduan nama sansekerta dan yunani tapi saya belum tau

6. Do you want kids? Why or why not? 
= Yes, i want my own yang bisa leluasa ku sayang dan ku kunyel-kunyel (kunyel-kunyel adalah bisa ku cium dan cubit)
 
7. What’s your favorite memory with your best friend(s)? 
= Every moment is my fav! (eyak)

8. How many times did it take you to pass your driver’s test? 
= Once B)

9. The scariest dream you had? 
= My mom and dad getting divorce. And then i woke up with puffy red eyes

10. How tall are you? 
= 5'5"

11. The last thing you ate was… Ayam goreng saat sahur

12. A band you want to see live is… Currently, The Naked and Famous

13. Do you have a hero/someone you look up to? If so, who? 
= Emake dan Bapake

14. Do you like to swim? 
= Yes, but in swimming pool

15. Things you look for in a guy/girl? 
= How we can share many things, thought, moment, anything.

16. Has a book ever upset you? 
= Yes, judulnya catchy covernya lovely but turns out it talks abou k-pop fan thing that i don't understand *sigh*

17. What was the first instrument you learned to play? 
= Piano but i failed HAHAHA

18. Some of your hobbies include… nonton konser!!

19. How do you deal with anger? 
= Take a deep breathe, and let it out. Then talk to someone i really trust

20. Something you like about your appearance is… My hair

21. What was the last movie you watched? 
= Minions

22. Do you have a favorite ghost story? What about a personal ghost story? 
= Maap saya penakut

23. Where is the farthest from home that you've gone? 
= Paris, Frabce

24. Have you met anyone through Tumblr that you'd like to meet irl?
= A lot of them karena saya kebanyakan follow orang-orang yang tidak saya kenal

25. Do you look like your parents? 
= No :( gatau anak siapa

26. Things you have in common with your parents? 
= With Bapake, good taste of music. With Emake, good taste of food. With Both, good taste of housing.

27. What is to the right of you? 
= Books

28. A favorite memory with a sibling? 
= When we team up to get what we want HAHAHA

29. What is something you wish you'd done? 
= Learning music instrument for real

30. What are some of your favorite blogs? 
= cinemapoetica lagi sering baca

31. Do you sing in the shower? 
= Always

32. Something others have described you as... jomblo *sigh*

33. Name of every pet you've had... Kucing bernama Mocca (karena warnanya) dan Beti (yang berarti Belang Tiga)

34. Your favorite superhero? 
= She-Hulk!

35. Two of your fears are... alone and lonely, lose myself

36. What you're majoring in in college/what you plan to major in... Communication Studies

37. What is your favorite season? 
= Spring

38. The best vacation you took?
= Snorkling in Bali and Gili

39. Why your best friend is your best friend... because they weird, we're weird HAHA

40. How did you come across your favorite band? 
= I know ARTTM from one person. The cycle is when you know one of it, you will aware of any others band

41. Jobs you wanted as a little kid? 
= A famous person, Artist HAHA

42. Are you an introvert or extrovert? 
= Both maybe... because i get INFJ/EFNJ

43. When was the last time you drank?
= Tadi pagi pas saur minum air putih

44. How many pillows do you sleep with? 
= One

45. Are you a "safe" driver? 
= Kinda reckless... still learning tho

46. Something that's bothering you right now? 
= Yes, the thought of failure and letting down people around me

47. How many cds do you own?
= Idk

48. How many books do you own? 
= A lot ahaha

49. How many aunts and uncles do you have? 
= 8 uncles and 7 autns

50. "Top 10" [Something]
 Top 10 Town i ever visited
1. Amsterdam
2. Zurich
3. Bali
4. Rome
5. Paris
6. Sydney
7. Yogyakarta
8. Gili Trawangan
9. Innsburck
10.  Melbourne

SHAKE IT OFF!

WARNING
Jika kamu memiliki pemikiran yang sempit, tidak mau terbuka (pikirannya), dan judgmental. Saya sarankan untuk tidak membaca post ini lebih lanjut





Serem nggak warningnya?
Ahahahahahaha
Yep. Humor gue receh

First of all.
Dilihat dari judulnya. Yes, gue super suka Taylor Swift. Hanya dia yang menjaga sisi feminitas saya dalam genre musik

Okay so kembali bersama pemiliki, penulis, perombak, dan penggagas blog ini yaitu saya!
Seperti biasa, blog ini saya gunakan untuk menyalurkan pikiran dari sudut pandang saya.
So pasti saya sangat memaklumi apabila kamu yang baca nggak setuju atau mungkin mendukung apa yang saya utarakan. But anyway, kalo kamu nggak suka it's super fine for me. Let it be aja :)

Jadi akhir-akhir ini saya merasa bahwa timeline/home dari LINE sudah berubah fungsi menjadi sarana dakwah dan kuliah kehidupan, pengemis like, voucher jebakan, dan comment war zone. Alihfungsi tersebut diakibatkan oleh fitur LINE yang menyediakan official account yang dapat digunakan oleh siapa saja dan fitur share to timeline. Terdapat banyaaaaak banget akun yang berkompetisi untuk menjadi hits. Sebenarnya fitur ini sangat membantu siapa saja untuk mempromosikan acara, membuat account untuk menampung keluhan, curhat, dan lain-lain. Tapi, that tapi word, banyak pula yang menyalahgunakan fitur tersebut dan menjadikan para pemerhati timeline (seperti saya yang jarang post kalo nggak penting-penting amat) merasa risih. Okay saya tegaskan kembali, i'm super okay siapa aja mau menyalurkan pikirannya, perasaannya, apa aja ke timeline line tapi apabila hal itu merugikan orang lain, saya cukup tidak okay (apaandah met). Maksudnya adalah saya tau bahwa timeline line itu public space, tapi ingat bahwa setiap orang punya hak dan kewajiban seperti saya mempunyai hak untuk tidak menyukai atau mendukung aktivitas yang dapat merugikan orang lain, contoh : post yang menyindir salah satu pihak, yang mempropaganda, dan menipu banyak pihak. Okay saya akan sebutkan secara satu-per-satu.

1. Sarana Dakwah dan Kuliah Kehidupan
Banyak sekali akun-akun LINE official yang mengusung tema dakwah, good quotes, dan life lecture. No no, bukan pengetahuan melainkan nasihat-nasihat kehidupan yang belum tentu dapat related dengan semua tipe manusia. Saya membaca sebuah akun yang menyebarkan screen-capture tweet seseorang yang terkenal namun tidak mau saya sebutkan namanya karena bisa saja ini merugikan bagi pihaknya. Di dalam screen-capture tersebut, terdapat tweet yang intinya bahwa Cowok tidak menyenangi Cewek yang terlalu mandiri dan mereka cenderung takut dengan cewek yang terlalu mandiri. Okay gue mau beri 2 respon dari sisi yang berbeda yaitu sisi gue sebagai cewek (yang akan menjadi mandiri) dan sisi gue sebagai individu

Sebagai Cewek (insyaAllah Mandiri):
LIKE HELLOOOOO HARI GINI MASIH AJA ADA GENDER DIATAS GENDER. Nggak, sayagamau menampik bahwa emang tugas perempuan untuk menjadi ibu dan mengurus rumah tangga. Tapi udah lumrah banget kalau perempuan mau bekerja dan menafkahi dirinya sendiri. Ayah saya mengajarkan bahwa saya sebagai perempuan tidak boleh bergantung (khususnya secara finansial) pada orang lain khususnya laki-laki yang menjadi pendamping saya. Karena who knows kan bisa aja hari ini diatas dan besok berada di bawah. Kita sebagai perempuan yang memang dari hati sendiri mau bekerja harus independen dan jangan terlalu bergantung sama suami. Nggak enak juga kan sebagai perempuan, kita harus menggunakan uang suami untuk keperluan kita sendiri sedangkan uangnya masih harus digunakan untuk membayar urusan rumah tangga kayak bayar listrik, bayar air, bayar pajak, belanja bulanan, dan lain-lain. Dan kalau terjadi (nauzubillahiminzalik) perceraian atau KDRT, kita bisa ambil langkah sendiri untuk mengambil tindakan yang seharusnya. Banyak kasus dimana perempuan akhirnya terpaksa bertahan karena ia nggak mandiri secara finansial.

Sebagai insan manusia:
Sebenarnya nggak apa-apa setiap orang punya pandangan yang berbeda. Cuma harus banget di share lagi ya? Dan yang share hal-hal macam itu banyak dari akun-akun yang bernuansa keagamaan. Okay, agama sebagai penuntun kehidupan memiliki berbagai aturan yang dimiliki. Tapi bukankah agama juga menjunjung kebaikan bagi setiap insannya?


Okay sedikit bergeser topik. Menurut saya pribadi hidup ini sangat adil karena tidak adil.


Dan kadang akun good quotes ini menjadi sarana endorse berbagai produk. Agak bete juga kan kalo lagi asik ngebaca quotes bagus tiba-tiba diselingi oleh endorse?


2. Pengemis Like
Jujur ini saya cukup risih baik dilihat dari sisi saya sebagai insan manusia, cewek, mahasiswi, dan lain-lain. Akun ini sering post foto dengan tulisan : LIKE FOTO INI KALO KAMU SAYANG ORANG TUA KAMU atau YANG NGGAK LIKE NANTI NGGAK LULUS.
Dan respon saya
TERUS KALO SAYA LIKE SITUH MAU TANGGUNG JAWAB SAMA KEHIDUPAN SAYAH??????? ESMOSI LOH SAYAH SUKA-SUKA SAYAH LAH MAU LIKE ATAU NGGAK.
Maaf nyolot
Kalo emang sayang orang tua, tinggal tunjukin dan buat orang tua kalian bangga. Kalo emang mau lulus ya belajar yang bener.
Dan parahnya lagi
Akun tersebut sengaja mengumpulkan like yang banyak sehingga ia bisa dijadikan akun untuk endorse produk-produk
Dasar kapitalis.

3. Akun palsu dan voucher-voucher penipuan
Banyak banget akun-akun yang mengaku sebagai produk atau orang terkenal misalkan Apple, McDonald, atau artis. Kemudian mereka post seperti voucher yang menggiurkan seperti "Like dan Share untuk dapet iPhone 7S"  (padahal barangnya aja belom dibuat) atau "Like dan Add agar bisa ketemu (nama si artis)". Saya sih bicara dalam hati, hari gini mana ada gratisan yang sebegitunya. Ada juga akun yang mengatasnamakan suatu acara dan melakukan kuis agar yang add bisa dapet tiket gratis. Like kalo harganya 100 ribu sih gue masih percaya, tapi kalo harganya 1 juta hello?!?!
Kasian kan banyak yang ketipu dan kecewa atas ulah oknum-oknum tidak bertanggung-jawab ini.

4. Comment war-zone
Ini sih. Benar benar dahsyat.
Akibat fitur share, banyak sekali orang-orang yang meng-share pendapat atau status atau post dari orang lain sehingga semakin banyak yang membaca dan dapat mencomment post tersebut. Akibat buruknya? Ya! Comment war-zone!
Udah nggak zaman tuh twit-war, jamannya berantem di timeline line.
Misalkan seseorang post "#LoveWins" nanti kalo kalian iseng baca commentnya ada yang comment "Yes!! Love is for everyone!" lalu ada lagi yang comment "Jadi kamu mendukung tindakan yang tidak sesuai dengan kaidah agama????"
Like dude, mind your business,
Setiap orang boleh berpendapat mau kalian setuju atau nggak.
Kalo kalian setuju, yaudah. Kalo kalian nggak setuju, yaudah juga.
Perlu banget ya berantem dan kalian tau itu nggak ada solusi yang berakhir cuma jadi sensasi?
Capek-capekin ajah.




Well, that's all.
Love me like you do
Hates gonna hate, hate, hate 
(Lah karokean)

TTYL x

7.6.15

Ayo, dukung Film Indonesia!

(Iklan yang ditayangkan sebelum film mulai dengan kartun karakter Presiden RI Bapak Joko Widodo mengajak masyarakat untuk menonton film Indonesia)
"Ayo, nonton film Indonesia!'
Tiba-tiba terdengar suara celetukan "Maksudnya film kayak Cabe-cabean?"

Pertama-tama, saya tidak bermaksud untuk mengucilkan atau mendiskriminasikan film yang saya sebutkan. Saya yakin, semua insan perfilman Indonesia begitu kreatif dalam menghasilkan karyanya. Namun, tetap sad-truth yang harus dihadapi bahwa masih banyak film lokal yang ada di bioskop mendatangkan stigma negatif tentang kredibilitas film Indonesia. Banyak sekali gaungan ajakan agar kita, masyarakat Indonesia, mendukung film lokal yaitu film Indonesia. Saya pribadi, sebagai penonton, sangat amat teramat (ya, ini kata yang tidak efektif namun cukup menjelaskan) mendukung film Indonesia, tapi apakah film tersebut layak mendapat dukungan saya?
Saat ini masyarakat Indonesia masih disuguhkan dengan tontonan yang bisa dibilang kurang mendidik, kurang menanamkan nilai-nilai baik, dan terkesan menjerumuskan (ke hal kurang baik). Apakah potret seperti itu yang ingin kita tonjolkan di mata dunia? Indonesia yang memiliki selera humor dengan mengata-ngatai fisik orang lain? Atau Indonesia yang terkenal akan hantu-hantunya yang menyeramkan dan lebih seramnya lagi dapat menjelma menjadi hantu lain seperti hantu pocong suster ngesot? Entah siapa yang dapat disalahkan, penonton atau para punggawa film indonesia.
Saya sendiri pun bertanya-tanya, siapa yang menyebabkan hal ini apakah penonton atau media? Saya ingat saya pernah bertanya kepada dosen Teori Komunikasi saya, media yang memengaruhi selera penonton atau sebaliknya. Jawaban beliau adalah "Tergantung, kamu mau lihat dari sisi penonton atau media."

Indonesia saat ini tengah gencar menjunjung ekonomi kreatifnya, di tahun 2015 ini terbentuk sebuah badan yaitu Badan Ekonomi Kreatif menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2015. Langkah yang cukup besar dalam mengawal perkembangan ekonomi kreatif bangsa ini. Terlihat sekali bahwa Presiden begitu memerhatikan ekonomi kreatif khususnya di bidang Film. Selama dilaksanakannya Festival Film Indonesia, baru kali ini Presiden sendiri menghadiri acara tersebut . Bentuk dukungan yang begitu besar untuk insan perfilman Indonesia. Berbagai kampanye dan ajakan mengaung untuk mendukung perfilman Indonesia. Berbagai Film, Sutradara, Aktor Indonesia sukses baik di festival mancanegara bahkan di film box-office Hollywood (Berita: Film Indonesia di Festival Cannes, Aktor Indonesia bermain di film Hollywood). Berbagai prestasi terukir dan mengharumkan nama perfilman Indonesia. Tapi... ya.... dari semua kecemerlangan itu tetap ada tapi. 
Film-film yang bersaing di ajang bergengsi sebut saja Selamat Pagi, Malam atau What They Talk When They Don't Talk About Love tidak dapat disaksikan di negerinya sendiri oleh bangsanya sendiri. Mereka terpaksa gulung layar dengan cepat karena kalah saing dengan berbagai film Hollywood dengan jumlah teater yang mendominasi. Sekali lagi, seperti itukah dukungan terhadap film Indonesia?
Entah hanya perasaan saya atau memang begitu kenyataannya, film-film lokal yang disajikan kepada masyarakat Indonesia hanya film yang sering disebut dengan film ece-ece dengan hantu-hantuan yang menampilkan dada-dadaan. Dan film-film lokal lainnya terpaksa beralih ke festival dan teater lokal seperti Kineforum agar dapat disaksikan oleh penonton.
Sedikit saya ingin 'menyentil' para pembuat film hantu-dadaan tersebut. saat ini saya mengutip apa yang mbak Helena katakan (baca : Citizen Journalism) bahwa penonton Indonesia saat ini sudah kritis dan aktif dalam menentukan konten yang ingin diterima. Penonton Indonesia tidak akan tinggal diam dengan dicekoki film hantu-dadaan tersebut. Pada mata kuliah Teori Komunikasi, kami mahasiswa Komunikasi diajarkan bahwa Penontonlah yang menentukan konten apa yang ia terima dari berbagai media dan aktif pula ddalam menginterpretasi dan memberikan kritik terhadap apa yang disampaikan media.
"Media domination is weak and ineffectual, since the people make their own meanings and pleasures." - Budd, Entman, and Steinman
Saya dengan bangga mengakui bahwa perfilman Indonesia tengah menaiki roket menuju puncak! Berbagai film seperti Filosofi Kopi, Pendekar Tongkat Emas, Madre, Tabula Rasa dan masih banyak lagi dan saya tidak bisa menyebutkannya satu-persatu telah menumbuhkan harapan bagi masyarakat Indonesia akan kelangsungan perfilman Indonesia. Film-film Indonesia telah unjuk gigi mengenai siapa sebenarnya bangsa ini, seperti apa budaya bangsa ini, dan keindahan negeri ini. Judul-judul yang saya sebutkan hanya sedikit film yang ditayangkan di bioskop, masih banyak lagi film berkualitas lainnya yang ditayangkan dengan media lain seperti bioskop online dan lain-lain. 
Semoga kedepannya ketika jargon "Ayo, nonton film Indonesia' dikumandangkan, tidak akan ada lagi celetukan tentang bagaiman cabe-cabeannya film kita, namun celetukan dengan antusiasme dan semangat untuk mendukung film Indonesia.

Ayo, dukung film Indonesia! Tidak, tidak perlu menjadi produser atau hal-hal yang rumit lainnya. Cukup dengan menonton film Indonesia di bioskop, niscaya 10 atau 20 tahun kedepan, insan perfilman kita dapat menyaingi baik Hollywood, Bollywood bahkan aktif dan produktif di perfilman dunia.


Tertanda,

Penonton yang peduli Film Indonesia


9.5.15

Selamat Pagi, Malam





Bintang yang sendiri
Datang malam ini
Biar tak sendiri
Tak cemas karena pagi

Melayang-layang
Ke dadaku
Ada rindu yang
Hangat disitu

Semalam saja
Lalu ku biarkan
Engkau menyelinap
Pergi jauh

Karena ku tak ingin
Apa-apa
Dan tak tak dimiliki
Siapa-siapa

Semalam saja
Tak mau sendiri

Ucapkan kata
Selamat Pagi

Selamat Pagi, Malam - Agustine Oendari

Lagu ini merupakan soundtrack dari salah satu film Indonesia yang saya bela-belakan untuk menonton film berjudul sama yaitu Selamat Pagi, Malam karya Lucky Kuswandi. Film yang mengambil latar di ibukota Indonesia, yaitu Jakarta begitu menampilkan kehingar-bingaran kota metropolitan ini, namun memaparkan kenyataan bahwa sesuatu yang gemerlap mempunyai sisi gelapnya. 
Setiap orang punya rahasia, yes?
Seperti ketiga tokoh utama yaitu Gia (Adinia Wirasti), Indri (Ina Panggabean), dan Ci Surya (Dayu Wijanto)

Gia, sang pelancong yang baru saja pulang dari kota The Big Apple kembali ke rumahnya yaitu Jakarta. Culture shock, mendapati kehingar-bingaran dan kemunafikan Jakarta saat ini. Apapun yang trend bergerak seperti wabah. Satu orang mempunyai blackberry, semua orang punya blackberry. Satu orang menyukai rainbow cake, semua orang berlomba-lomba menyantap rainbow cake. Entah kemana orisinalitas individu di Jakarta masa kini. Namun yang Gia tidak sangka, partner semasa di New York yang terlebih dahulu pulang, Naomi (Marissa Anita) adalah satu dari sekian orang yang Gia anggap munafik. Seseorang yang paling ia harapkan untuk tidak menjadi mayoritas. Entah siapa yang lebih munafik, Jakarta, atau Gia yang masih menganggap dirinya berada di New York dan tidak menerima keadaan rumahnya sekarang.

Siapapun ingin merasakan berada pada strata sosial tertinggi, apalagi di Jakarta dimana status sosial seseorang dapat kamu tebak berdasarkan merk tas jinjingnya. Termasuk Indri si penjaga handuk di tempat olahraga, ia ingin merasakan bagaimana menjadi orang kaya! Jalan pintas pun ia pilih. "Pilihlah pria yang mapan" kata orang tua dulu. Indri menggunakan kemahsyuran teknologi saat ini untuk menemukan sang pria mapan. Chatting atau mengobrol di dunia maya merupakan upaya Indri untuk mencapai keinginannya. Pria yang belum pernah ia lihat batang hidungnya pun meminta sesuatu yang rasanya kurang layak untuk seseorang yang belum pernah ditemui. Pria itu meminta Indri memuaskan hasratnya, ya, hasrat seksualnya melalui chatting. Hanya foto, pikir Indri yang kemudian memberikan apapun yang pria itu minta dengan harapan bahwa pria tersebut dapat membantunya mencapai kemakmuran berlebihan. Namun bagaimana ketika Pria itu tidak sesuai dengan apa yang Indri pikirkan? Bagaimana jika Indri merasa tidak semurah itu? Bagaimana ternyata Indri lebih memilih untuk jatuh pada lelaki yang nongkrong di kedai kerak telor pinggir jalan?

When you lost your soulmate, it feels like you lost half of your soul. Itulah yang dirasakan oleh Ci Surya ketika ditinggal suaminya untuk menghadap ke yang Maha Kuasa. Ia kehilangan arah. Namun penemuan sebuah kartu nama dengan nama Sofia di jas milik suaminya membuat Ci Surya harus berpetualang meninggalkan zona nyamannya. Menemukan sesosok Sofia, benalu pada pernikahannya. Entah untuk konfrontasi atau balas dendam, yang Ci Surya tahu adalah menemukan sosok Sofia.

Ketiga cerita berbeda latar belakang dipertemukan oleh keadaan, oleh keindahan kota Jakarta pada malam hari dengan segala lampu gemerlap, tepatnya di sebuah hotel (atau motel) tua nan indah. Sang sutradara, Lucky Kuswandi, tahu benar bagaimana mempertemukan ketiga tokoh dan meyakinkan penonton akan keabsahan cerita para tokoh tersebut. Penataan gambar yang begitu ciamik, membuat siapa saja jatuh cinta dengan Jakarta pada malam hari. Film ini berhasil menyentil sisi gelap Jakarta yang masih belum diterima masyarakatnya. Sisi Jakarta yang gelap, namun nyata adanya. Menurut saya, film ini memberikan penggambaran dan cara pandang yang baru bagi realitas yang ada saat ini khususnya di Jakarta. Cerita yang dibawa perlahan membuat penonton semakin lama semakin larut padanya. Dan yang tidak kalah adalah soundtrack yang begitu menghidupkan film ini. Rasanya keempat ibu jari saya akan saya angkat untuk film ini.

Seperti yang saya katakan bahwa film ini adalah salah satu film yang saya bela-belakan untuk menontonnya. Sayang sekali saya tidak sempat menonton film ini di bioskop. Akhirnya saya menonton di Kineforum Misbar yang dilaksanakan di Taman Menteng. Beruntungnya saya ditemani ketiga sahabat saya Andre, Radit, dan Faishal untuk menonton film ini. Saat itu hujan baru saja selesai mengguyur daerah Menteng dan sekitarnya namun antusiasme penonton cukup ramai untuk film yang baru akan diputar pukul 9 malam. Selama menonton, penonton begitu terkesima dan tersihir hingga tidak banyak suara-suara tambahan datang dari bangku penonton. Setelah film selesai ternyata ada kejutan! Sang produser, Sammaria Simanjuntak, Ci Surya, Dayu Wijanto, dan staff dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta datang dan memberikan sesi tanya-jawab. Para penonton begitu antusias untuk mengangkat tangan dan bertanya. Setelah sesi-tanya jawab selesai, beruntung saya bisa sedikit mengobrol dengan produser Sammaria Simanjuntak. Saya mengatakan bahwa saya begitu menganggumi karya-karyanya dari karya terdahulu seperti cin(T)a dan Demi Ucok. Saya ingat betul bahwa beliau mengatakan terima kasih dan bilang bahwa saya harus terus berusaha dan jangan pernah menyerah untuk membuat perfilman Indonesia menjadi lebih baik.

Malam itu begitu Indah, rasanya saya tidak ingin mengucapkan selamat pagi.



Selamat Pagi, Malam (In the Absence of the Sun)
Released : 2014
Director : Lucky Kuswandi
Producer : Sammaria Simanjuntak, Sharon Simanjuntak
Studio : Kepompong Gendut
Cast : Adinia Wirasti, Marrisa Anita, Dayu Wijanto
Duration : 92 minutes