6.9.15

Lessons learned

Saya menangis dua kali hari ini karena dua hal
Hal pertama, karena menyadari betapa ignorantnya saya
Hal kedua, karena menyadari bahwa this world is not okay, and never be (yet)

1.
Entah mungkin hanya otak saya yang berpikir semua itu berjalan how it's supposed to be. Seperti takdir sudah menentukan jalan apa yang akan diambil, tindakan apa yang sesuai, dan siapa yang menerimanya. Oke, karena saya yakin apa yang baru saja anda baca sulit untuk dicermat, saya akan mencoba mengulangnya sekali lagi kali ini dengan lebih ringkas dan mudah dicerna. Saya berpikir bahwa tindakan saya adalah what it is. Semua berjalan otomatis, saya yakin bahwa tindakan saya otomatis diterima orang lain karena status dan peran mereka terhadap hidup saya. Dan itu adalah kesalahan besar. No matter who they are, mereka adalah individual human being. Mereka punya perasaan yang tidak semerta-merta secara otomatis menerima tindakan. Sebagai contoh, kesalahan saya kepada adik saya. Saya berpikir karena dia adik saya, dia dapat menerima saya sebagaimana adanya, seburuk apapun itu. Kebiasaan saya adalah ketika saya marah, saya menjadi diam dan jutek, menjawab dengan ketus. Dan kebiasaan itu yang harus diterima oleh adik saya, dan saya menganggap bahwa dia sanggup menerimanya. Saya berpikir, atau bahkan tidak berpikir, saya hanya merasa bahwa he's gonna be fine with that because he's my brother. Dan hari ini ia membuktikan bahwa he's not fine at all. And worse, i don't realize it, not even ever crossed my mind. 
And i asked myself,"how can you be such an ignorant bitch all this time?"
And then i cry
Not only because what i've done, but also the way i never think about it 
I never want to hurt anybody
But still, i hurt somebody without realising it
And it makes me cry harder
But crying is not the solution, saya kemudian merefleksikan diri, apa saja yang telah saya perbuat, dan kepada siapa saya melakukannya. Dan saya menyadari betapa tidak sadarnya saya telah menyakiti orang lain.
The idea of hurting people hurts me the most.

Hurt disini bukan saya menampar atau memukul seseorang, namun menyakiti hatinya, batinnya, perasaanya, pikirannya, yang tidaklah lebih baik daripada menyakiti fisiknya. Hal yang bisa diambil bagi saya, anda, siapa saja adalah jangan pernah lupa bahwa setiap orang merupakan invididu yang mempunyai perasaan dan batas masing-masing. Mau apapun peran dan status mereka bagi kita, ayah, ibu, adik, kakak, sahabat, pacar, orang terdekat, mereka adalah diri mereka sendiri. Jangan merasa karena kita adalah anak dari ibu kita, kita menganggap bahwa mereka akan menerima saja perlakuan kita. Ya, mereka mungkin nggak akan ngomong secara gamblang, tapi mereka tetap merasakannya.

For anyone that has been hurt by me, i'm sorry. I mean it, i really really sorry.

Bukan berarti kita harus menjadi orang lain,
It's okay to be who you are, but never be an ignorant person.

Semakin dewasa, semakin kita mencoba mengenal diri kita lebih baik. Tidak hanya apa potensi terbaik kita, namun juga mengetahui keburukan yang kita miliki.
Dan mulai sekarang saya mencoba dan berusaha, menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


2. Saya baru saja menghabiskan satu setengah jam "menyiksa" diri saya sendiri dengan menonton film No Escape. Rasanya hati saya tercabik saat menonton film tersebut. Despite the review, great or not, this film makes me think hard. Membuat saya melihat diri saya sebagai orang yang kurang berguna.
Sebelum menjelaskan lebih lanjut, saya akan memberikan sedikit sinopsis dari film No Escape. Film No Escape menceritakan Jack (Owen Wilson) yang memboyong keluarganya dari Texas untuk pindah ke third world di wilayah Asia Tenggara untuk bekerja pada perusahaan air bersih asal Amerika. Ternyata perjanjian air bersih tersebut mengakibatkan pemberontakan dan membunuh perdana menteri negara tersebut. Para pemberontak pun merusak kota dan memburu target mereka, yaitu orang asing khususnya Amerika yang dianggap telah menjajah dan membohongi mereka. Penonton akan disuguhkana adegan Jack, Istrinya, dan kedua anak perempuannya mencoba menyelamatkan diri dari negara tersebut.
Beberapa adegan begitu menampar saya keras, a wake-up slap.

(WARNING! THIS MAY CONTAIN SPOILER)

Adegan yang menohok saya adalah ketika Hammond (Pierce Brosnan) seorang ekspatriat mengatakan bahwa dirinya lah yang mengakibatkan pemberontakan terjadi, para ekspatriat seperti dirinya. Para ekspatriat datang dengan bersahabat, mencuri hati para petinggi negara. Kemudian melakukan kerjasama hal-hal penting bagi negara itu, sarana air bersih, jembatan, apapun yang sebenarnya tidak penting bagi para ekspatriat tersebut. Memberikan pinjaman dengan mudahnya, padahal mereka tau bahwa negara tersebut tidak akan sanggup membayarnya. Kemudian setelah negara tersebut terlilit utang, they eventualy owns it. Bentuk penjajahan modern. Itulah kutipan dialog film yang saya interpretasikan.
Tidak, adegan tersebut tidak menampar saya karena saya berada pada sisi para ekspatriat. Namun menyadarkan saya bahwa negara-negara penanam modal itu butuh disadarkan bahwa kerakusan mereka adalah bumerang. Menyadarkan bahwa sesungguhnya upaya penjajahan masih ada.
Saya berpikir ringkas, kenapa? apakah tidak bisa hanya bekerja sama?
Bisa, sebenarnya bisa jika salah satu pihak tidak rakus. Namun, sangat disayangkan bahwa rakus adalah salah satu sifat manusia yang sulit terelakkan.

Adegan lain, ketika wanita menjadi korban, tidak hanya jiwa mereka yang direnggut namun juga kehormatannya. Ketika Annie (Lake Bell) mencoba menyelamatkan suaminya Jack dan mengakibatkan dirinya ditangkap oleh para pemberontak. Kemudian para pemberontak tersebut mencoba memperkosanya. Dan yang lebih menyayat, mereka membuat Jack menyaksikannya. Thank god hal tersebut tidak terjadi karena Hammond menyelamatkan mereka di waktu yang tepat. Sebagai seorang wanita, saya begitu meringis, meradang melihatnya. Bahwa hal tersebut adalah kenyataan  yang terjadi membuat perasaan saya perih. Saya tidak melihat diri saya sebagai seorang feminist, namun mau apapun jenis kelamin anda jika anda memiliki perasaan, hal tersebut tidak manusiawi. Lust, sifat manusia lainya yang sangat disayangkan dan tidak terelakan. Rasanya lebih baik mati dengan kehormatan, namun kadang pilihan itu tidak ada.

Sebenarnya saya menangis bukan hanya karena film tersebut, tapi saya menyadari bahwa apa yang terjadi di film tersebut juga tengah terjadi pada dunia ini, detik ini.
And it crushed my feelings.

Ketika saya membaca berita-berita mengenai pengungsi Suriah yang tengah mencoba menyelamatkan diri ke Eropa membuat saya membayangkan apa yang tengah terjadi di negara tersebut. Mereka terusir dari negeri mereka sendiri. Dan tidak diterima oleh negara lain. Namun berita terakhir yang saya baca adalah akhirnya pemerintan Hungaria membantu para pengungsi (yang diberita disebut imigran) untuk berangkat menuju Austria agar dapat memulai kehidupan baru. Berita lain yang menyayat hati adalah terdamparnya seorang mayat anak laki-laki berusia 3 tahun di perairan Turki. Anak malang tersebut adalah salah satu korban dari mereka yang tenggelam di perairan mediterania yang tidak berhasil menyelamatkan diri. 

Membaca headlines BBC Indonesia "Bocah Tiga Tahun Membayangi Kebijakan Dunia pada G20" membuka mata saya. Saya mengutip pidato Perdana Menteri Turki, Davutoglu. 

"Tubuh bocah tiga tahun itu adalah peringatan bagi kita. Jika anak-anak di Suriah tidak aman, maka anak kita tidak akan aman di Ankara, Paris atau New York. Karena anak-anak ini tidak bisa memutuskan dimana mereka lahir, ini takdir. Tapi keputusan kitalah (dalam membuat kebijakan) yang akan menentukan nasib mereka di masa depan,"

Ketika anak-anak yang menjadi korban, bukan hanya diri mereka yang meninggal, namun generasi mereka juga akan mati. Untuk menghancurkan suatu bangsa, tidak perlu menghabisi para petinggi, dengan membunuh generasi muda, maka habis pula masa depan suatu negara. Oleh karena itu, perlu kesadaran bahwa anak-anak adalah masa depan yang perlu dilindungi.

Dan hal lain yang membuat saya meringis, lagi-lagi how ignorant am i
Saya mempermasalahkan hal-hal yang buat teman-teman saya seperti di Suriah adalah hal-hal tidak penting.
Saya pusing memikirkan baju apa yang akan saya kenakan besok, sedangkan mereka memikirkan apakah mereka masih bisa bertahan hingga besok.
Saya stress membayangkan tugas-tugas kuliah saya, sedangkan mereka memikirkan keberadaan anggota keluarga mereka yang tidak dapat melarikan diri dari negaranya.
Saya sedih melihat berat badan saya yang naik, sedangkan mereka sedih melihat adik-adiknya mengais remah roti di jalan karena kelaparan.

Hal ini mendukung saya menjadi pribadi yang lebih berguna bagi orang lain, atau setidaknya tidak merugikan orang lain. 
Mungkin bumi ini tidak baik-baik saja, dan mungkin tidak akan pernah baik-baik saja. Namun keinginan saya adalah kehidupan saya berarti bagi orang lain. Saya ingin meninggalkan jejak bagi mereka yang dilanda kesusahan dapat mengikuti dan membantu mendapatkan awal baru. Saya ingin diri saya berharga, bukan karena harta atau jabatan yang saya miliki, namun karena saya bisa berguna bagi orang banyak.
Tidak, saya tidak mendeklarasikan diri saya menjadi Mother Theresa dan menginginkan hadiah Nobel. Saya hanya ingin menjadi manusia yang berguna, menjadi manusia yang seutuhnya.