27.3.17

Words from the heartbreak

She loves him when he said her name for the first time, her full name.
She knows it's a kind of love she know she's not supposed to feel.
There so much boundaries between them, but the real strunggle is he doesn't love her like she does. She keeps loving him in silence, watching him from behind.
But she believes the love she have will makes her happy, makes him happy.
Time passes, everybody is moving on except her.
He never look at her, even just a glance.
She still believe she will have her time, he will love her somehow.
And in time, she meet him again. But he becomes someone she doesn't like, someone she doesn't respect.
She asking herself, "why is he changing so much?".
She keeps thinking of him at night, wishing to meet him in her dream.
But then she realize, she's the one who change.
They used to be on the same page, but she's opened a new chapter.
Her belief and his belief now seems like the sun and the moon, that will never met.
He sees life as some kind of linear, she sees life as a grey area.
In the end, she learns to love herself more. Then she know that she loves herself, her belief, her dream more so she's letting him go.
But let the rest of her feelings burried in her heart.

20.2.17

Like a Fool

Bahkan akhir-akhir ini gue nggak bisa nulis.
Bahkan akhir-akhir ini gue nggak tau harus merasakan apa.
I feel numb, emotionally numb.
Gue bahkan nggak tahu lagi apa yang gue inginkan, gue harapkan. Seharusnya gue nggak di posisi ini, posisi mengeluh. Apa sih yang sebenarnya gue keluhkan? My life was fine.
Apa?
Pertanyaan yang terus terngiang di kepala gue.
Kenapa?
Kenapa gue merasa hampa kayak gini?
Yang gue lakukan hanya menonton film, berharap gue bisa merasakan sesuatu. Gue memang menangis, gue memang tertawa. Namun gue masih merasa hampa.
I don't event know what i'm looking for, and i don't like myself right now.
Kemana gue yang selalu berpikir positif?
Kemana gue yang selalu bisa menyemangati orang lain?
Apa selama ini gue terlarut larut dalam kebohongan gue sendiri?
Gue menghela nafas panjang, mendengar detak jantung sendiri.
Gue masih hidup.
Bukankah itu sudah cukup membuat gue bersyukur? Mengapa gue terus mengeluh?
Fool.
Numb.
That's what i am right now

15.2.17

Voting Days

Hi bloggie
Sepertinya gue akan lebih sering menggunakan blog gue sebagai jurnal harian hahahaha, semoga kalian nggak bosan mendengar keluhan gue.

So gue ngepost ini di hari rabu karena gue sedang libur. Libur apa? Libur Pemilihan Kepala Daerah. Gue menggunakan hak suara gue, dan ketika gue mencoblos, gue berdoa agar gue nggak salah pilih. Hari ini adalah hari yang cukup gue nantikan karena pada hari ini telah berakhir semua kampanye dari semua pasangan calon. Yes, walau gue tertarik mengikuti perkembangan politik namun gue sudah mulai muak. Muak dengan segala kebencian yang disebarkan selama masa kampanye ini.

Anyway, hari ini adalah satu hari setelah hari Valentine. Dan entah mengapa gue sedang ingin merefleksikan diri mengenai arti cinta buat gue.

Gue nggak tahu apakah gue pernah benar-benar jatuh cinta. I mean, perasaan yang kata orang begitu megah hingga gue tidak bisa memikirkan hal lain selain satu orang yang katanya lagi bisa mengubah kehidupan gue. Gue pernah suka sama orang, suka sampe membuat diri gue jadi bego pun pernah, tapi cinta? No oh, sepertinya belum.

The idea of love somehow fascinated me yet creeps me out. Kata orang cinta itu indah, dan gue penasaran dan mau merasakan itu. Tapi kalo gue pikir-pikir lagi..... cinta itu menyeramkan. Gue belum pernah kebayang punya orang yang tau seluk-beluk kehidupan gue dan dapat menerima gue apa adanya. Dan itu pula yang membuat gue takut, gue takut nggak akan ada orang yang bisa menerima dan mencintai gue apa adanya.

Teman-teman gue sering bilang kalau gue itu pemilih, maunya yang kayak gini dan kayak gitu dan sebagainya. Tapi gue merasa orang-orang yang pernah gue suka nggak pernah sesuai kriteria yang gue mau. Sepertinya gue adalah orang yang suka orang lain karena terbiasa. Dan ketika gue terbiasa tanpa adanya orang-orang itu, ya gue biasa aja.

Kalo gue ditanya apakah gue mau punya pacar? Jujur gue mau. Tapi gue nggak mau membangun hubungan sama seseorang hanya untuk menghabiskan waktu, menurut gue nggak worth it aja kayak gitu. Bukan berarti gue juga mau hubungan yang serius-serius banget, tapi gue juga nggak mau kalau cuma buat mainan. Gue mau menjalani dan menjadikan sebuah hubungan sebagai langkah menjadikan diri gue dan diri orang lain itu menjadi pribadi yang lebih baik.

Kalau gue ditanya apakah gue takut jatuh cinta? Gue nggak takut, bahkan gue mau jatuh cinta. Yang gue takutkan adalah orang yang nantinya gue cintai nggak bisa cinta sama gue. Whatever the reason is.

Ya, cinta, cinta, cinta, terdengar syahdu namun memabukkan.
Apakah gue harus mabuk agar bisa mencinta? Hahahahaha becanda.

Oh ya, ini rekomendasi gue buat korean love songs


Dan gue harus kembali mengerjakan tugas, so see you around!


12.2.17

12AM notes, not poems

Membaca tulisan teman gue Putu membuat gue sadar dengan satu hal, it's okay to put yourself first. Or the other words, being an ego one.

Dan disini, saat ini, akan gue umbar semua keegoisan gue! And hopefully i won't regret this!

I miss blogging. Gue kangen banget menulis di blog. Gue nggak harus takut dengan apa respon orang-orang yang baca, ataupun nggak ada lagi yang baca selain diri gue sendiri. Gue nggak harus takut kalo ada penulisan yang kurang efektif ataupun tidak sesuai KBBI. Disini, gue menulis untuk diri gue sendiri. Gue menceritakan apa yang gue tahu, yang gue rasakan, dan yang ingin gue bagi.

Writing has been hard lately. Menjadi mahasiswa jurnalisme kadang membuat gue meragukan tulisan gue sendiri. Apakah ini sudah cukup tajam? Cukup mumpuni? Nggak berpihak? Efektif? Dan segala keraguan lainnya. Bukan berarti gue nggak bahagia jadi mahasiswa jurnalisme, i have a good, bad, marvelous time. Dan gue memang ingin belajar menjadi jurnalis yang baik. But i miss writing for myself.

Kadang keegoisan gue ini, menulis untuk menyenangkan diri gue sendiri, membuat gue berpikir ulang untuk jadi jurnalis. Buat gue, seseorang yang dapat menjadi jurnalis harus memiliki sifat selfless karena mereka menulis untuk orang lain. Dan hal yang membuat gue sedih, kadang gue menulis tanpa perasaan. Tulisan gue hanya menjadi sekedar hasil jadi, produk. Padahal seharusnya yang dicurahkan dalam tulisan itu adalah perhatian dan diri gue terhadap orang banyak. Mungkin itu yang memang dialami oleh para jurnalis pada masa awal karir mereka, mungkin, gue juga belum pernah nanya. I will ask later on.

Menulis adalah cara gue berbuat baik untuk diri gue sendiri. Gue lebih memilih menulis dibanding harus berbicara mengenai perasaan gue. Ketika gue berbicara, selalu ada rasa penyesalan setelahnya. Hal yang kurang baik dan harus gue akui adalah gue berbicara lebih cepat dibandingkan gue memikirkan apa yang harus dikatakan. Layaknya gue berbicara secara otomatis sebelum gue tahu makna atau pesan apa yang benar-benar ingin gue sampaikan. But i'm still a loud one, i love to talk somehow when i'm with poeple. But when i'm alone? Not so much.

Apakah gue jadi 'berisik' karena mencari perhatian? Mungkin, tapi gue sendiri juga kadang melakukan itu secara tidak sadar. I like to interact with people, greetings, and all those little stuff. Namun hal tersebut cukup melelahkan sehingga ketika gue sendiri gue akan diam seperti memberi diri gue sendiri jeda waktu.

Cukup lega rasanya menuliskan ini.

A lot things happened, tapi hal yang masih harus gue pelajari adalah how to say no and do something for myself. Dua hal tersebut yang kadang menempatkan diri gue pada posisi yang tidak gue senangi, dan membuat gue tidak senang dengan diri sendiri. Gue tau masih banyak orang di luar sana memiliki masalah yang lebih penting dari sekedar tidak senang dengan diri sendiri. Namun ketika gue aja nggak suka sama diri gue sendiri, kenapa orang lain harus suka? Yang punya kewajiban untuk menyukai diri gue ya gue sendiri.

I'd like to meet the drunk version of myself, listening to what i really feel. Melegakan diri gue sendiri, menjadi jujur dengan diri gue sendiri. Kenapa ya susah untuk jujur dengan diri gue sendiri? Untuk yakin dengan kemauan sendiri?

Betapa menyedihkannya gue mengeluh di tengah malam, malam minggu lagi.

But at least i do good things for myself, let my mind and my heart burst some times.




20.8.16

St. Jerome’s Laneway Festival Singapore : Tidak terlupakan!

The 1975


Sebagai orang yang memang senang untuk menonton konser, saya sudah acap kali datang ke berbagai konser baik dari Pentas Seni hingga festival Internasional. Namun jika ditanya konser mana yang Terbaik bagi saya, jawabannya adalah St. Jerome’s Laneway Festival di Singapura. Alasanya bukan hanya karena konser tersebut sudah berkelas Internasional ataupun line-up yang keren. Satu alasan terkuat adalah; on-time. Dari berbagai konser yang saya datangi, saya cukup maklum jika konser dimulai terlambat atau ngaret. Jujur, saya sudah terbiasa untuk menunggu sejam atau dua jam dari waktu yang diberitahukan. Karena itu lah saya begitu amazed dengan ketepatan waktu St. Jerome’s Laneway Festival Singapore.
            St. Jerome’s Laneway Festival merupakan festival musik indie yang memang sudah diakui oleh para concert-goer. Berasal dari negara kangguru yaitu Australia tepatnya di kota Melbourne, festival ini kemudian berekspansi ke Selandia Baru, Amerika Serikat, juga Singapura.
            St. Jerome’s Laneway Festival Singapore 2016 diselenggarakan pada 30 Agustus 2016 di The Meadow, Gardens By The Bay. Line-up-nya pun begitu jaw-dropping, ada The 1975, Grimes, CHVRCHES, Purity Ring, Beach House, The Internet, DIIV, dan lainnya dengan total 28 performer lokal dan internasional. Ada empat panggung yang disediakan festival ini; Garden Stage, Bay Stage, Cloud Stage, dan White Room. Selain itu, festival ini juga dipenuhi oleh berbagai booth baik dari sponsor juga makanan-minuman. Festival ini dimulai pukul 11.00 dan selesai pada tengah malam. Seperti yang saya sudah katakan, semua dimulai tepat sebagaimana tertulis di jadwal yang diberikan kepada kurang lebih 13.000 penontonnya. Ini pengalaman saya menonton St. Jerome’s Laneway Festival Singapore.
            Saya bersama teman saya, Ayu, datang pukul 14.00. Saat itu matahari begitu terik dan hawa panas tidak terhindarkan. Saya datang tepat ketika East India Youth akan tampil di Cloud Stage. Cloud Stage tidak sebesar Bay Stage atau Garden Stage yang merupakan panggung utama festival ini. Dengan jas dan dasinya, William Doyle –nama asli East India Youth- menyapa penonton. Penonton pun kemudian dimanjakan dengan musik dreamy instrumental-nya. East India Youth bilang bahwa dirinya tidak pernah merasakan udara sepanas ini, namun ia akan tetap menggunakan jas dan dasinya agar para penonton mendapatkan pengalaman terbaik dari penampilannya. Penonton pun bertepuk tangan dengan meriah!
            Kemudian saya berpindah menuju Bay Stage yang akan diisi oleh The Internet. Penonton bersorak ketika satu-persatu personil The Internet menaiki panggung, Syd The Kyd –vokalis The Internet – kemudian mengajak penonton untuk ikut bergoyang bersamanya. Band neo-soul ini berhasil membuat para penonton menggerakan tubuh dan menikmatinya.

Thanks to Airbnb booth!

            Panas yang begitu menyengat dan penonton yang sangat ramai membuat saya cepat haus dan lapar. Beruntung panitia memberikan air mineral botol kepada setiap penonton saat memasuki venue. Penonton juga tidak perlu khawatir karena banyak booth yang menjual berbagai macam makanan. Mulai dari Sloppy Joe hingga wrap sushi, jus hingga booze, semuanya tersedia untuk memuaskan selera. Selain itu, penonton juga bisa mendatangi booth-booth sponsor seperti Airbnb, Jake Willis, H&M, dan lainnya. Booth sponsor tersebut menawarkan berbagai kegiatan seperti games, tempat duduk untuk sekedar beristirahat, juga freebies berupa goodie bag juga foto siap cetak.
            Setelah memuaskan perut dan mengistirahatkan diri sejenak. Saya dan Ayu kembali menuju Bay Stage pada sekitar pukul 17.00 untuk menonton Hermitude. Duo electronic hip-hop asal Australia ini membawakan hits meeka yaitu “The Buzz” dan “Ukiyo” yang membuat penonton bersorak. Walaupun menurut saya saat itu masih terlalu ‘pagi’ untuk musik elektronik, tapi Hermitude tetap berhasil membuat para penonton melompat dan bergoyang hingga set mereka berakhir.
            Setelah Hermitude selesai, banyak orang berbondong-bondong menuju Bay Stage karena penampil berikutnya adalah The 1975, band yang tengah digandrungi. Para pria asal Manchester ini membuka penampilan mereka dengan single terbaru mereka “Love Me” dan penonton ikut bernyanyi. Matt Healy –frontman band The 1975- membuka kancing kemejanya ditengah set dan penonton khususnya para perempuan berteriak histeris. Cukup sulit bagi saya untuk bernafas saat itu karena penonton yang begitu padar sehingga saya harus berusaha mendapatkan oksigen. Panggung Bay Stage dihiasi oleh lampu neon khas The 1975 yang begitu terang sebagaimana penampilan mereka yang begitu memukau. Setelah membawakan 12 lagu termasuk lagu hits mereka yaitu “Girls”, “Chocolate”, dan “Sex”, The 1975 pun melakukan bow-down untuk mengakhiri penampilan mereka.
            Kemudian saya bergeser ke Garden Stage yang hanya bersebelahan dengan Bay Stage untuk penampilan band favorit saya, CHVRCHES. Sambil menunggu, saya menikmati penampilan Grimes yang berada di panggung Bay Stage. Mungkin saya bukan fans berat Grimes, tapi saya begitu takjub dengan penampilanya yang solid dan penuh energi. Dengan memakai bando pita merah yang besar serta beberapa penari latar, Grimes menghipnotis penonton dengan musik synth-pop-nya.
            The wait is over. Akhirnya CHVRCHES akan tampil. Ini bukan kali pertama CHVRCHES tampil di St. Jerome’s Laneway Festival Singapore, tapi ini pertama kalinya saya dapat melihat mereka secara langsung. Suara Lauren Mayberry yang manis namun terdengan rapuh menyapa penonton. Lauren juga bilang bahwa ia tidak pernah merasakan udara sepanas ini, saya membatin bahwa bukan dia saja yang merasa seperti itu. Penampilan CHVRCHES pun dibuka oleh lagu “Never Ending Circle” dari album terbaru mereka “Every Open Eyes”. Penonton begitu menikmati penampilan enerjik CHVRCHES dan tata panggungnya yang indah. Lagu klasik mereka, “The Mother We Share” menutup penampilan yang memukau tersebut.
            Saya punya pengalaman yang tidak terlupakan saat menonton CHVRCHES. Karena St. Jerome Laneway Festival Singapore memperbolehkan minuman beralkhol, cukup banyak dari penonton yang tidak berada dalam keadaan sadar. Ada satu penonton, seorang bule, yang terlihat cukup mabuk. Ia dan beberapa temannya mencoba menerobos kedepan dan mendorong penonton lain. Hal ini mengakibatkan bule tersebut bertengkar dengan penonton lain hingga ia menyiramkan minumannya ke penonton tersebut. Teman salah satu bule itu kemudian menyiramkan minumannya dan tidak sengaja mengenai mata saya. Disitu saya hampir menangis karena mata saya begitu perih. Tiba-tiba penonton lain dibelakang saya dengan baik hati memberikan air mineralnya, penonton lain pun memberikan tisu mereka. Seorang pria, yang saya yakini orang Singapura, bertanya apakah saya baik-baik saja. Pertama kali dalam hidup saya menonton konser, saya mendapat kebaikan dari orang-orang yang saya tidak kenal seperti ini. Akhirnya bule dan teman-teman mabuknya pun pergi dan saya serta penonton yang membantu saya kembali menikmati penampilan CHVRCHES.
            Waktu menunjukan sekitar pukul 00.15 ketika Flume menutup St. Jerome’s Laneway Festival Singapore dengan cover lagu “You and Me” dari Disclosure. Penonton kemudian berbondong-bondong meninggalkan venue dan menuju tempat –tempat untuk mencari kendaraan pulang.
            St. Jerome’s Laneway Festival memang merupakan konser pertama saya di luar negeri, namun pengalaman yang saya dapatkan sungguh luar biasa. Tidak hanya saya dapat menyaksikan langsung penampilan dari band-band kesukaan saya, saya juga merasakan kebaikan dari orang-orang yang saya tidak kenal. Menyanyikan lagu kesukaan saya sepenuh hati bersama penonton-penonton lain. Saya dapat menghabiskan waktu bersama sahabat saya menikmati musik yang kami suka. Itu kebahagiaan yang akan selalu saya hargai.

18.8.16

Memilih Untuk Tidak

Aku ingin menyukaimu,
Namun aku memilih untuk tidak

Tidak sekelibatpun menyukaimu
Karena kau begitu indah
Layaknya suatu yang utopia

Aku dapat menyayangimu,
Namun aku memilih untuk tidak

Tidak sebersitpun memiliki rasa sayang
Karena kau bagaikan sebuah pelangi
Namun diriku selalu menantikan hujan

Aku bisa mencintaimu,
Namun aku memilih untuk tidak

Karena kata cinta adalah picisan
Ketika tak bermakna
Dan tak memberikan masa depan


Walau mungkin
Kata yang terucap tak selaras
Dengan rasa yang diserukan hati
Namun aku memilih
Membiarkan aku dan kamu
Hanya dihubungkan dengan sebuah 'dan'
Tanpa perlu menjadi kita