20.2.17

Like a Fool

Bahkan akhir-akhir ini gue nggak bisa nulis.
Bahkan akhir-akhir ini gue nggak tau harus merasakan apa.
I feel numb, emotionally numb.
Gue bahkan nggak tahu lagi apa yang gue inginkan, gue harapkan. Seharusnya gue nggak di posisi ini, posisi mengeluh. Apa sih yang sebenarnya gue keluhkan? My life was fine.
Apa?
Pertanyaan yang terus terngiang di kepala gue.
Kenapa?
Kenapa gue merasa hampa kayak gini?
Yang gue lakukan hanya menonton film, berharap gue bisa merasakan sesuatu. Gue memang menangis, gue memang tertawa. Namun gue masih merasa hampa.
I don't event know what i'm looking for, and i don't like myself right now.
Kemana gue yang selalu berpikir positif?
Kemana gue yang selalu bisa menyemangati orang lain?
Apa selama ini gue terlarut larut dalam kebohongan gue sendiri?
Gue menghela nafas panjang, mendengar detak jantung sendiri.
Gue masih hidup.
Bukankah itu sudah cukup membuat gue bersyukur? Mengapa gue terus mengeluh?
Fool.
Numb.
That's what i am right now

15.2.17

Voting Days

Hi bloggie
Sepertinya gue akan lebih sering menggunakan blog gue sebagai jurnal harian hahahaha, semoga kalian nggak bosan mendengar keluhan gue.

So gue ngepost ini di hari rabu karena gue sedang libur. Libur apa? Libur Pemilihan Kepala Daerah. Gue menggunakan hak suara gue, dan ketika gue mencoblos, gue berdoa agar gue nggak salah pilih. Hari ini adalah hari yang cukup gue nantikan karena pada hari ini telah berakhir semua kampanye dari semua pasangan calon. Yes, walau gue tertarik mengikuti perkembangan politik namun gue sudah mulai muak. Muak dengan segala kebencian yang disebarkan selama masa kampanye ini.

Anyway, hari ini adalah satu hari setelah hari Valentine. Dan entah mengapa gue sedang ingin merefleksikan diri mengenai arti cinta buat gue.

Gue nggak tahu apakah gue pernah benar-benar jatuh cinta. I mean, perasaan yang kata orang begitu megah hingga gue tidak bisa memikirkan hal lain selain satu orang yang katanya lagi bisa mengubah kehidupan gue. Gue pernah suka sama orang, suka sampe membuat diri gue jadi bego pun pernah, tapi cinta? No oh, sepertinya belum.

The idea of love somehow fascinated me yet creeps me out. Kata orang cinta itu indah, dan gue penasaran dan mau merasakan itu. Tapi kalo gue pikir-pikir lagi..... cinta itu menyeramkan. Gue belum pernah kebayang punya orang yang tau seluk-beluk kehidupan gue dan dapat menerima gue apa adanya. Dan itu pula yang membuat gue takut, gue takut nggak akan ada orang yang bisa menerima dan mencintai gue apa adanya.

Teman-teman gue sering bilang kalau gue itu pemilih, maunya yang kayak gini dan kayak gitu dan sebagainya. Tapi gue merasa orang-orang yang pernah gue suka nggak pernah sesuai kriteria yang gue mau. Sepertinya gue adalah orang yang suka orang lain karena terbiasa. Dan ketika gue terbiasa tanpa adanya orang-orang itu, ya gue biasa aja.

Kalo gue ditanya apakah gue mau punya pacar? Jujur gue mau. Tapi gue nggak mau membangun hubungan sama seseorang hanya untuk menghabiskan waktu, menurut gue nggak worth it aja kayak gitu. Bukan berarti gue juga mau hubungan yang serius-serius banget, tapi gue juga nggak mau kalau cuma buat mainan. Gue mau menjalani dan menjadikan sebuah hubungan sebagai langkah menjadikan diri gue dan diri orang lain itu menjadi pribadi yang lebih baik.

Kalau gue ditanya apakah gue takut jatuh cinta? Gue nggak takut, bahkan gue mau jatuh cinta. Yang gue takutkan adalah orang yang nantinya gue cintai nggak bisa cinta sama gue. Whatever the reason is.

Ya, cinta, cinta, cinta, terdengar syahdu namun memabukkan.
Apakah gue harus mabuk agar bisa mencinta? Hahahahaha becanda.

Oh ya, ini rekomendasi gue buat korean love songs


Dan gue harus kembali mengerjakan tugas, so see you around!


12.2.17

12AM notes, not poems

Membaca tulisan teman gue Putu membuat gue sadar dengan satu hal, it's okay to put yourself first. Or the other words, being an ego one.

Dan disini, saat ini, akan gue umbar semua keegoisan gue! And hopefully i won't regret this!

I miss blogging. Gue kangen banget menulis di blog. Gue nggak harus takut dengan apa respon orang-orang yang baca, ataupun nggak ada lagi yang baca selain diri gue sendiri. Gue nggak harus takut kalo ada penulisan yang kurang efektif ataupun tidak sesuai KBBI. Disini, gue menulis untuk diri gue sendiri. Gue menceritakan apa yang gue tahu, yang gue rasakan, dan yang ingin gue bagi.

Writing has been hard lately. Menjadi mahasiswa jurnalisme kadang membuat gue meragukan tulisan gue sendiri. Apakah ini sudah cukup tajam? Cukup mumpuni? Nggak berpihak? Efektif? Dan segala keraguan lainnya. Bukan berarti gue nggak bahagia jadi mahasiswa jurnalisme, i have a good, bad, marvelous time. Dan gue memang ingin belajar menjadi jurnalis yang baik. But i miss writing for myself.

Kadang keegoisan gue ini, menulis untuk menyenangkan diri gue sendiri, membuat gue berpikir ulang untuk jadi jurnalis. Buat gue, seseorang yang dapat menjadi jurnalis harus memiliki sifat selfless karena mereka menulis untuk orang lain. Dan hal yang membuat gue sedih, kadang gue menulis tanpa perasaan. Tulisan gue hanya menjadi sekedar hasil jadi, produk. Padahal seharusnya yang dicurahkan dalam tulisan itu adalah perhatian dan diri gue terhadap orang banyak. Mungkin itu yang memang dialami oleh para jurnalis pada masa awal karir mereka, mungkin, gue juga belum pernah nanya. I will ask later on.

Menulis adalah cara gue berbuat baik untuk diri gue sendiri. Gue lebih memilih menulis dibanding harus berbicara mengenai perasaan gue. Ketika gue berbicara, selalu ada rasa penyesalan setelahnya. Hal yang kurang baik dan harus gue akui adalah gue berbicara lebih cepat dibandingkan gue memikirkan apa yang harus dikatakan. Layaknya gue berbicara secara otomatis sebelum gue tahu makna atau pesan apa yang benar-benar ingin gue sampaikan. But i'm still a loud one, i love to talk somehow when i'm with poeple. But when i'm alone? Not so much.

Apakah gue jadi 'berisik' karena mencari perhatian? Mungkin, tapi gue sendiri juga kadang melakukan itu secara tidak sadar. I like to interact with people, greetings, and all those little stuff. Namun hal tersebut cukup melelahkan sehingga ketika gue sendiri gue akan diam seperti memberi diri gue sendiri jeda waktu.

Cukup lega rasanya menuliskan ini.

A lot things happened, tapi hal yang masih harus gue pelajari adalah how to say no and do something for myself. Dua hal tersebut yang kadang menempatkan diri gue pada posisi yang tidak gue senangi, dan membuat gue tidak senang dengan diri sendiri. Gue tau masih banyak orang di luar sana memiliki masalah yang lebih penting dari sekedar tidak senang dengan diri sendiri. Namun ketika gue aja nggak suka sama diri gue sendiri, kenapa orang lain harus suka? Yang punya kewajiban untuk menyukai diri gue ya gue sendiri.

I'd like to meet the drunk version of myself, listening to what i really feel. Melegakan diri gue sendiri, menjadi jujur dengan diri gue sendiri. Kenapa ya susah untuk jujur dengan diri gue sendiri? Untuk yakin dengan kemauan sendiri?

Betapa menyedihkannya gue mengeluh di tengah malam, malam minggu lagi.

But at least i do good things for myself, let my mind and my heart burst some times.




20.8.16

St. Jerome’s Laneway Festival Singapore : Tidak terlupakan!

The 1975


Sebagai orang yang memang senang untuk menonton konser, saya sudah acap kali datang ke berbagai konser baik dari Pentas Seni hingga festival Internasional. Namun jika ditanya konser mana yang Terbaik bagi saya, jawabannya adalah St. Jerome’s Laneway Festival di Singapura. Alasanya bukan hanya karena konser tersebut sudah berkelas Internasional ataupun line-up yang keren. Satu alasan terkuat adalah; on-time. Dari berbagai konser yang saya datangi, saya cukup maklum jika konser dimulai terlambat atau ngaret. Jujur, saya sudah terbiasa untuk menunggu sejam atau dua jam dari waktu yang diberitahukan. Karena itu lah saya begitu amazed dengan ketepatan waktu St. Jerome’s Laneway Festival Singapore.
            St. Jerome’s Laneway Festival merupakan festival musik indie yang memang sudah diakui oleh para concert-goer. Berasal dari negara kangguru yaitu Australia tepatnya di kota Melbourne, festival ini kemudian berekspansi ke Selandia Baru, Amerika Serikat, juga Singapura.
            St. Jerome’s Laneway Festival Singapore 2016 diselenggarakan pada 30 Agustus 2016 di The Meadow, Gardens By The Bay. Line-up-nya pun begitu jaw-dropping, ada The 1975, Grimes, CHVRCHES, Purity Ring, Beach House, The Internet, DIIV, dan lainnya dengan total 28 performer lokal dan internasional. Ada empat panggung yang disediakan festival ini; Garden Stage, Bay Stage, Cloud Stage, dan White Room. Selain itu, festival ini juga dipenuhi oleh berbagai booth baik dari sponsor juga makanan-minuman. Festival ini dimulai pukul 11.00 dan selesai pada tengah malam. Seperti yang saya sudah katakan, semua dimulai tepat sebagaimana tertulis di jadwal yang diberikan kepada kurang lebih 13.000 penontonnya. Ini pengalaman saya menonton St. Jerome’s Laneway Festival Singapore.
            Saya bersama teman saya, Ayu, datang pukul 14.00. Saat itu matahari begitu terik dan hawa panas tidak terhindarkan. Saya datang tepat ketika East India Youth akan tampil di Cloud Stage. Cloud Stage tidak sebesar Bay Stage atau Garden Stage yang merupakan panggung utama festival ini. Dengan jas dan dasinya, William Doyle –nama asli East India Youth- menyapa penonton. Penonton pun kemudian dimanjakan dengan musik dreamy instrumental-nya. East India Youth bilang bahwa dirinya tidak pernah merasakan udara sepanas ini, namun ia akan tetap menggunakan jas dan dasinya agar para penonton mendapatkan pengalaman terbaik dari penampilannya. Penonton pun bertepuk tangan dengan meriah!
            Kemudian saya berpindah menuju Bay Stage yang akan diisi oleh The Internet. Penonton bersorak ketika satu-persatu personil The Internet menaiki panggung, Syd The Kyd –vokalis The Internet – kemudian mengajak penonton untuk ikut bergoyang bersamanya. Band neo-soul ini berhasil membuat para penonton menggerakan tubuh dan menikmatinya.

Thanks to Airbnb booth!

            Panas yang begitu menyengat dan penonton yang sangat ramai membuat saya cepat haus dan lapar. Beruntung panitia memberikan air mineral botol kepada setiap penonton saat memasuki venue. Penonton juga tidak perlu khawatir karena banyak booth yang menjual berbagai macam makanan. Mulai dari Sloppy Joe hingga wrap sushi, jus hingga booze, semuanya tersedia untuk memuaskan selera. Selain itu, penonton juga bisa mendatangi booth-booth sponsor seperti Airbnb, Jake Willis, H&M, dan lainnya. Booth sponsor tersebut menawarkan berbagai kegiatan seperti games, tempat duduk untuk sekedar beristirahat, juga freebies berupa goodie bag juga foto siap cetak.
            Setelah memuaskan perut dan mengistirahatkan diri sejenak. Saya dan Ayu kembali menuju Bay Stage pada sekitar pukul 17.00 untuk menonton Hermitude. Duo electronic hip-hop asal Australia ini membawakan hits meeka yaitu “The Buzz” dan “Ukiyo” yang membuat penonton bersorak. Walaupun menurut saya saat itu masih terlalu ‘pagi’ untuk musik elektronik, tapi Hermitude tetap berhasil membuat para penonton melompat dan bergoyang hingga set mereka berakhir.
            Setelah Hermitude selesai, banyak orang berbondong-bondong menuju Bay Stage karena penampil berikutnya adalah The 1975, band yang tengah digandrungi. Para pria asal Manchester ini membuka penampilan mereka dengan single terbaru mereka “Love Me” dan penonton ikut bernyanyi. Matt Healy –frontman band The 1975- membuka kancing kemejanya ditengah set dan penonton khususnya para perempuan berteriak histeris. Cukup sulit bagi saya untuk bernafas saat itu karena penonton yang begitu padar sehingga saya harus berusaha mendapatkan oksigen. Panggung Bay Stage dihiasi oleh lampu neon khas The 1975 yang begitu terang sebagaimana penampilan mereka yang begitu memukau. Setelah membawakan 12 lagu termasuk lagu hits mereka yaitu “Girls”, “Chocolate”, dan “Sex”, The 1975 pun melakukan bow-down untuk mengakhiri penampilan mereka.
            Kemudian saya bergeser ke Garden Stage yang hanya bersebelahan dengan Bay Stage untuk penampilan band favorit saya, CHVRCHES. Sambil menunggu, saya menikmati penampilan Grimes yang berada di panggung Bay Stage. Mungkin saya bukan fans berat Grimes, tapi saya begitu takjub dengan penampilanya yang solid dan penuh energi. Dengan memakai bando pita merah yang besar serta beberapa penari latar, Grimes menghipnotis penonton dengan musik synth-pop-nya.
            The wait is over. Akhirnya CHVRCHES akan tampil. Ini bukan kali pertama CHVRCHES tampil di St. Jerome’s Laneway Festival Singapore, tapi ini pertama kalinya saya dapat melihat mereka secara langsung. Suara Lauren Mayberry yang manis namun terdengan rapuh menyapa penonton. Lauren juga bilang bahwa ia tidak pernah merasakan udara sepanas ini, saya membatin bahwa bukan dia saja yang merasa seperti itu. Penampilan CHVRCHES pun dibuka oleh lagu “Never Ending Circle” dari album terbaru mereka “Every Open Eyes”. Penonton begitu menikmati penampilan enerjik CHVRCHES dan tata panggungnya yang indah. Lagu klasik mereka, “The Mother We Share” menutup penampilan yang memukau tersebut.
            Saya punya pengalaman yang tidak terlupakan saat menonton CHVRCHES. Karena St. Jerome Laneway Festival Singapore memperbolehkan minuman beralkhol, cukup banyak dari penonton yang tidak berada dalam keadaan sadar. Ada satu penonton, seorang bule, yang terlihat cukup mabuk. Ia dan beberapa temannya mencoba menerobos kedepan dan mendorong penonton lain. Hal ini mengakibatkan bule tersebut bertengkar dengan penonton lain hingga ia menyiramkan minumannya ke penonton tersebut. Teman salah satu bule itu kemudian menyiramkan minumannya dan tidak sengaja mengenai mata saya. Disitu saya hampir menangis karena mata saya begitu perih. Tiba-tiba penonton lain dibelakang saya dengan baik hati memberikan air mineralnya, penonton lain pun memberikan tisu mereka. Seorang pria, yang saya yakini orang Singapura, bertanya apakah saya baik-baik saja. Pertama kali dalam hidup saya menonton konser, saya mendapat kebaikan dari orang-orang yang saya tidak kenal seperti ini. Akhirnya bule dan teman-teman mabuknya pun pergi dan saya serta penonton yang membantu saya kembali menikmati penampilan CHVRCHES.
            Waktu menunjukan sekitar pukul 00.15 ketika Flume menutup St. Jerome’s Laneway Festival Singapore dengan cover lagu “You and Me” dari Disclosure. Penonton kemudian berbondong-bondong meninggalkan venue dan menuju tempat –tempat untuk mencari kendaraan pulang.
            St. Jerome’s Laneway Festival memang merupakan konser pertama saya di luar negeri, namun pengalaman yang saya dapatkan sungguh luar biasa. Tidak hanya saya dapat menyaksikan langsung penampilan dari band-band kesukaan saya, saya juga merasakan kebaikan dari orang-orang yang saya tidak kenal. Menyanyikan lagu kesukaan saya sepenuh hati bersama penonton-penonton lain. Saya dapat menghabiskan waktu bersama sahabat saya menikmati musik yang kami suka. Itu kebahagiaan yang akan selalu saya hargai.

18.8.16

Memilih Untuk Tidak

Aku ingin menyukaimu,
Namun aku memilih untuk tidak

Tidak sekelibatpun menyukaimu
Karena kau begitu indah
Layaknya suatu yang utopia

Aku dapat menyayangimu,
Namun aku memilih untuk tidak

Tidak sebersitpun memiliki rasa sayang
Karena kau bagaikan sebuah pelangi
Namun diriku selalu menantikan hujan

Aku bisa mencintaimu,
Namun aku memilih untuk tidak

Karena kata cinta adalah picisan
Ketika tak bermakna
Dan tak memberikan masa depan


Walau mungkin
Kata yang terucap tak selaras
Dengan rasa yang diserukan hati
Namun aku memilih
Membiarkan aku dan kamu
Hanya dihubungkan dengan sebuah 'dan'
Tanpa perlu menjadi kita

8.5.16

Review : AADC?2

Ini dia, film Indonesia yang paling ditunggu abad ini (berlebihan), film yang menjadi jawaban atas segala pertanyaan (juga berlebihan).
Filmnya adalah........... (drum roll) ............ ADA APA DENGAN CINTA? 2


Film ini merupakan sekuel dari Ada Apa Dengan Cinta? (2002), yang dianggap merupakan tonggak kembalinya film-film Indonesia yang berkualitas. Hampir semua orang terkena 'demam' AADC, mulai dari buat puisi-puisi 'nyastra' ala-ala Rangga, bikin dance genk ala genk Cinta, maupun memakai jepit kupu-kupu besar ala Cinta. Pokoknya, kehidupan remaja yang hype banget!

Nah di sekuel ini, Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC 2) kembali menyuguhkan persahabatan antara Cinta (Dian Sastrowardoyo), Karmen (Adinia Wirasti), Maura (Titi Kamal), dan Milly (Sissy Prescillia), dan juga kisah cinta serial yang belum terjawab antara Cinta dan Rangga (Nicholas Saputra).


Sinopsis
Cinta, yang 14 tahun lalu adalah ketua mading, telah beranjak dewasa dan memiliki galeri seni sendiri. Cinta mengundang teman-temannya untuk datang ke galerinya, sekedar reuni kecil-kecilan. Tentu keadaan genk Cinta semua sudah berubah, Milly menikah dengan Mamet (Dennis Adhiswara), iya, Mamet yang itu, dan saat ini tengah mengandung anak pertama. Maura juga sudah menikah dengan Chris (Christian Sugiono) dan memiliki 3 anak. Karmen, yang harus bergulat dengan kenyataannya, ditinggal suami dan mencari pelarian kepada obat-obatan terlarang. Dan Cinta, yang  telah bertunangan dan akan menuju babak baru di kehidupannya bersama Trian (Ario Bayu). Mereka berkumpul di galeri seni Cinta, membahas keadaan yang sudah berubah seiring mereka yang juga tumbuh dewasa. Karena telah lama tidak menghabiskan waktu bersama, Cinta and the gank sepakat liburan bersama di Yogyakarta.

Di belahan dunia lainnya, tepatnya di New York, Rangga masih berkutat dengan tulis-menulis puisi. Mengarungi jalanan New York di musim dingin, ia kemudian pergi menuju sebuah kafe kecil miliknya. Ya, Rangga sekarang adalah penulis, fotografer, dan pembisnis. Datang seorang gadis membawa pesan yang lebih menusuk dibanding dinginnya kota New York, gadis itu adalah adik tiri Rangga. Rangga dihadapkan pada sesuatu yang tak pernah ia nanti, bertemu dengan sosok Ibu yang telah absen dari 25 tahun kehidupannya.

Di Yogyakarta, Cinta dan Rangga kembali dipertemukan oleh takdir, setelah 9 tahun yang lalu hubungan mereka berakhir tanpa alasan. Cinta awalnya menolak untuk bertemu kembali dengan seseorang di masa lalunya, yang ia anggap sudah menjadi prasasti di kehidupannya. Dorongan dari teman-temannya membuat Cinta sadar, ia menginginkan perdamaian, perdamaian dengan masa-lalunya, perdamaian dengan Rangga. Rangga sendiri juga ingin berdamai, berdamai dengan Cinta, berdamai dengan ibunya, dan berdamai dengan dirinya sendiri.

Akankah Cinta dan Rangga kembali bersama?
Atau Cinta akan bersama Trian?
Dan kemanakah Alya?

Tonton Ada Apa Dengan Cinta? 2 di Bioskop kesayangan anda!


Review
(MIGHT BE SPOILER)

Sebelumnya, udah saya ingatkan ya saya mungkin spoiler di bagian review ini. Setelah membaca tulisan ini, gue nggak bertanggung jawab atas ekspektasi dan harapan kalian saat menonton filmnya :p


Saking keponya, saya udah membaca beberapa review film AADC?2 dari beberapa sumber, and it's totally mixed review! And thanks for that, sayamenjadi semakin kepo dan ingin menentukan sendiri dengan menonton filmnya. 

Film garapan Miles Production dengan Mira Lesmana sebagai Produser dan Riri Riza sebagai Sutradara menggaet sineas-sineas yang memang sudah biasa menjadi tim dalam menggarap film-film dari Miles sebelumnya. Sebut saja Yadi Sugandi (Laskar Pelangi, 3 Hari Untuk Selamanya) sebagai Sinematografer, W. Ichwan Diardono (Laskar Pelangi, Atambua 39 derajat Celcius) sebagai Editor. Melly Goeslaw - Anto Hoed juga kembali didapuk sebagai penata musik dan pembuat soundtrack sebagaimana film pertamanya.

Saya mau membahas dulu ya beberapa segi teknik yang saya tau, atau dengan sedikit (banyak) ke-sok tahu-an saya. Saya sangat sangat sangat sangat menyukai color tone AADC?2, kayak somehow nyambung sama film pertamanya. Ada rasa-rasa nostalgia selain dari cerita yang saya rasakan berkat color tone itu. Urusan sinematografi dan pengaturan gambar nggak usah diragukan lagi, benar-benar jempolan. menyuguhkan gambar-gambar yang begitu memanjakan mata, baik di Jakarta, New York, maupun Yogyakarta. Menurut saya, penggambaran Yogyakarta begitu unik dengan sisi yang berbeda, sisi sebagai tempat wisata yang khas. Bagian yang paling saya suka adalah saat Cinta dan Rangga menonton sebuah papermoon puppet show, gambar yang disuguhkan begitu indah dan intens hingga saya terlarut emosi dibuatnya. Dari segi editing juga tidak perlu diragukan lagi. Ada satu scene yang saya dapatkan terjadi jump-cut, yaitu scene ketika Cinta dan Karmen melakukan Yoga. Namun hal ini tidak berdampak apapun pada keseluruhan film. Saya kurang memahami segi sound dan scoring, namun saya merasa penempatan lagu OST AADC?2 tepat untuk membangun emosi penonton.

Berikutnya saya membahas karakter dan akting, i do love how the characters develop through times. Cinta yang masih sensitif, namun dengan pikiran dan tindakan yang lebih dewasa. Karmen yang masih galak, namun menjadi lebih bijak. Maura yang masih centil, namun menjadi sosok yang lebih perhatian. Milly masih masih lucu dan menggemaskan, dengan celetukan-celetukan di timing yang pas. Perubahan karakter yang paling menganggetkan buat saya adalah karakter Rangga, masih kaku dan sinis, but somehow cheesy. Cheesy is not always a bad thing, Rangga yang menjadi cheesy menurut saya berhasil membuat Cinta dan penonton (khususnya perempuan) tersenyum mesem-mesem sendiri. Sebagai penonton, saya tidak merasakan para pemain AADC?2 memerankan sesuatu yang dibuat-buat. Persahabatan genk Cinta begitu mengalir, penonton pun dibuat seperti 'reuni' dengan teman-teman lama. I praise Dian Sastrowardoyo khususnya scene Cinta memberikan alasannya mau bertemu dengan Rangga, parah, maksimal. Dan teruntuk Sissy Prescillia, yang membuat karakter Milly begitu hidup dan sangat berkesan.

Terlihat pada poster AADC?2, dimana Rangga yang mengisi posisi Cinta di poster film pertamanya. Film ini juga lebih fokus pada kehidupan Rangga, dan perspektif Rangga pada kisahnya dengan Cinta. Kisah kehidupan Rangga di'gali' lebih jauh, sehingga Rangga menjadi sosok yang lebih dikenali. Penonton diajak menjadi Cinta, yang menginginkan jawaban dan penjelasan dari Rangga.

But there's no flashback scene in this film, seakan memang membiarkan yang lalu menjadi berlalu. Penonton, baik yang memang menonton dari film pertama, maupun penonton baru dari generasi yang baru, tidak harus terikat dengan film pertamanya. AADC?2 menjadi sekuel, namun tetap bisa berdiri sendiri.

Pada beberapa review yang saya baca, banyak yang terganggu dengan ads placement di film ini. Saya pribadi tidak merasa terganggu karena saya masih merasa dapat menoleransi karena produk-produk tersebut ditempatkan pada scene yang sesuai.

Nah, ini yang mungkin sedikit spoiler ya, saya pribadi menyukai jalan cerita kisah Cinta-Rangga. Sangat relevan menurut saya, tidak terlalu klise. Alasan Rangga meninggalkan Cinta pun menurut saya dapat dipertanggungjawabkan, i can understand the reason. Sebagai penonton, saya menyeletuk "ooh gitu toh" pada saat Rangga menjelaskan alasannya meninggalkan Cinta. Namun saya #TeamCinta ketika ia bilang "Kita nggak pernah ngebahas ini dulu.". Yes, alasan tersebut hanya menjadi kenyataan bagi Rangga selama ini, namun Cinta tidak pernah mengetahui kenyataan tersebut. Dialog-dialog singkat antara dua orang yang pernah saling menyayangi, dan tersirat bahwa masih ada rasa. Puisi-puisi karya Aan Mansyur benar-benar membuat hati saya bergeming.

Batas
(karya Aan Mansyur)

Semua perihal diciptakan sebagai batas. Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita. 
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang. 
Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya. Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan. Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur. 
Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi

Satu kata; mampuy.
Saya tertohok dibuatnya.

Sepanjang menonton filmnya saya sama sekali tidak merasa terganggu dengan jalan ceritanya, it all makes sense. Namun setelah menonton dan berpikir sejenak, saya cukup merasa ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang terlalu diburu-buru. Penyelesaian seakan disuguhkan seperti this is how the audience wants, saya pribadi mengharapkan lebih banyak detail dari penyelesaian tersebut. Celetukan-celetukan politik diselipkan saat Rangga mengaku selalu mengikuti pemilu dan bertanya pada Cinta apakah ia menyesal dengan Presiden pilihannya. Namun celetukan politik di AADC?2 tidak sebanyak AADC? yang saat itu dibawa melalui kisah ayah Rangga.



Over all my whole AADC?2 experience was soooooo good. Saya begitu bernostalgi dan somehow bisa memahami jalannya kisah cinta dengan penjelasan ini. Penjelasan, sesuatu yang mahal dan susah didapat oleh dua insan yang pernah saling berbagi rasa. Dan tentu film ini menambah referensi saya khususnya tempat wisata di Yogyakarta, saya sangat ingin menonton papermoon puppet show karenanya. And for my own personal reason, AADC?2 seakan pula memberikan jawaban atas pertanyaan perasaan saya sendiri. 

Tunggu apalagi? Nonton Ada Apa Dengan Cinta?2 Di Bioskop!


Bonus (KLIK!)