Membaca tulisan teman gue Putu membuat gue sadar dengan satu hal, it's okay to put yourself first. Or the other words, being an ego one.
Dan disini, saat ini, akan gue umbar semua keegoisan gue! And hopefully i won't regret this!
I miss blogging. Gue kangen banget menulis di blog. Gue nggak harus takut dengan apa respon orang-orang yang baca, ataupun nggak ada lagi yang baca selain diri gue sendiri. Gue nggak harus takut kalo ada penulisan yang kurang efektif ataupun tidak sesuai KBBI. Disini, gue menulis untuk diri gue sendiri. Gue menceritakan apa yang gue tahu, yang gue rasakan, dan yang ingin gue bagi.
Writing has been hard lately. Menjadi mahasiswa jurnalisme kadang membuat gue meragukan tulisan gue sendiri. Apakah ini sudah cukup tajam? Cukup mumpuni? Nggak berpihak? Efektif? Dan segala keraguan lainnya. Bukan berarti gue nggak bahagia jadi mahasiswa jurnalisme, i have a good, bad, marvelous time. Dan gue memang ingin belajar menjadi jurnalis yang baik. But i miss writing for myself.
Kadang keegoisan gue ini, menulis untuk menyenangkan diri gue sendiri, membuat gue berpikir ulang untuk jadi jurnalis. Buat gue, seseorang yang dapat menjadi jurnalis harus memiliki sifat selfless karena mereka menulis untuk orang lain. Dan hal yang membuat gue sedih, kadang gue menulis tanpa perasaan. Tulisan gue hanya menjadi sekedar hasil jadi, produk. Padahal seharusnya yang dicurahkan dalam tulisan itu adalah perhatian dan diri gue terhadap orang banyak. Mungkin itu yang memang dialami oleh para jurnalis pada masa awal karir mereka, mungkin, gue juga belum pernah nanya. I will ask later on.
Menulis adalah cara gue berbuat baik untuk diri gue sendiri. Gue lebih memilih menulis dibanding harus berbicara mengenai perasaan gue. Ketika gue berbicara, selalu ada rasa penyesalan setelahnya. Hal yang kurang baik dan harus gue akui adalah gue berbicara lebih cepat dibandingkan gue memikirkan apa yang harus dikatakan. Layaknya gue berbicara secara otomatis sebelum gue tahu makna atau pesan apa yang benar-benar ingin gue sampaikan. But i'm still a loud one, i love to talk somehow when i'm with poeple. But when i'm alone? Not so much.
Apakah gue jadi 'berisik' karena mencari perhatian? Mungkin, tapi gue sendiri juga kadang melakukan itu secara tidak sadar. I like to interact with people, greetings, and all those little stuff. Namun hal tersebut cukup melelahkan sehingga ketika gue sendiri gue akan diam seperti memberi diri gue sendiri jeda waktu.
Cukup lega rasanya menuliskan ini.
A lot things happened, tapi hal yang masih harus gue pelajari adalah how to say no and do something for myself. Dua hal tersebut yang kadang menempatkan diri gue pada posisi yang tidak gue senangi, dan membuat gue tidak senang dengan diri sendiri. Gue tau masih banyak orang di luar sana memiliki masalah yang lebih penting dari sekedar tidak senang dengan diri sendiri. Namun ketika gue aja nggak suka sama diri gue sendiri, kenapa orang lain harus suka? Yang punya kewajiban untuk menyukai diri gue ya gue sendiri.
I'd like to meet the drunk version of myself, listening to what i really feel. Melegakan diri gue sendiri, menjadi jujur dengan diri gue sendiri. Kenapa ya susah untuk jujur dengan diri gue sendiri? Untuk yakin dengan kemauan sendiri?
Betapa menyedihkannya gue mengeluh di tengah malam, malam minggu lagi.
But at least i do good things for myself, let my mind and my heart burst some times.
12.2.17
20.8.16
St. Jerome’s Laneway Festival Singapore : Tidak terlupakan!
![]() |
| The 1975 |
Sebagai
orang yang memang senang untuk menonton konser, saya sudah acap kali datang ke
berbagai konser baik dari Pentas Seni hingga festival Internasional. Namun jika
ditanya konser mana yang Terbaik bagi saya, jawabannya adalah St. Jerome’s
Laneway Festival di Singapura. Alasanya bukan hanya karena konser tersebut
sudah berkelas Internasional ataupun line-up yang keren. Satu alasan terkuat
adalah; on-time. Dari berbagai konser
yang saya datangi, saya cukup maklum jika konser dimulai terlambat atau ngaret. Jujur, saya sudah terbiasa untuk
menunggu sejam atau dua jam dari waktu yang diberitahukan. Karena itu lah saya
begitu amazed dengan ketepatan waktu
St. Jerome’s Laneway Festival Singapore.
St. Jerome’s Laneway Festival merupakan
festival musik indie yang memang sudah diakui oleh para concert-goer. Berasal dari negara kangguru yaitu Australia tepatnya
di kota Melbourne, festival ini kemudian berekspansi ke Selandia Baru, Amerika
Serikat, juga Singapura.
St. Jerome’s Laneway Festival
Singapore 2016 diselenggarakan pada 30 Agustus 2016 di The Meadow, Gardens By
The Bay. Line-up-nya pun begitu jaw-dropping, ada The 1975, Grimes,
CHVRCHES, Purity Ring, Beach House, The Internet, DIIV, dan lainnya dengan
total 28 performer lokal dan internasional. Ada empat panggung yang disediakan
festival ini; Garden Stage, Bay Stage, Cloud Stage, dan White Room. Selain itu,
festival ini juga dipenuhi oleh berbagai booth
baik dari sponsor juga makanan-minuman. Festival ini dimulai pukul 11.00 dan
selesai pada tengah malam. Seperti yang saya sudah katakan, semua dimulai tepat
sebagaimana tertulis di jadwal yang diberikan kepada kurang lebih 13.000
penontonnya. Ini pengalaman saya menonton St. Jerome’s Laneway Festival
Singapore.
Saya bersama teman saya, Ayu, datang
pukul 14.00. Saat itu matahari begitu terik dan hawa panas tidak terhindarkan.
Saya datang tepat ketika East India Youth akan tampil di Cloud Stage. Cloud
Stage tidak sebesar Bay Stage atau Garden Stage yang merupakan panggung utama
festival ini. Dengan jas dan dasinya, William Doyle –nama asli East India
Youth- menyapa penonton. Penonton pun kemudian dimanjakan dengan musik dreamy instrumental-nya. East India
Youth bilang bahwa dirinya tidak pernah merasakan udara sepanas ini, namun ia akan
tetap menggunakan jas dan dasinya agar para penonton mendapatkan pengalaman
terbaik dari penampilannya. Penonton pun bertepuk tangan dengan meriah!
Kemudian saya berpindah menuju Bay
Stage yang akan diisi oleh The Internet. Penonton bersorak ketika satu-persatu
personil The Internet menaiki panggung, Syd The Kyd –vokalis The Internet –
kemudian mengajak penonton untuk ikut bergoyang bersamanya. Band neo-soul ini berhasil membuat para
penonton menggerakan tubuh dan menikmatinya.
![]() |
| Thanks to Airbnb booth! |
Panas yang begitu menyengat dan
penonton yang sangat ramai membuat saya cepat haus dan lapar. Beruntung panitia
memberikan air mineral botol kepada setiap penonton saat memasuki venue. Penonton
juga tidak perlu khawatir karena banyak booth yang menjual berbagai macam
makanan. Mulai dari Sloppy Joe hingga wrap sushi, jus hingga booze, semuanya
tersedia untuk memuaskan selera. Selain itu, penonton juga bisa mendatangi booth-booth sponsor seperti Airbnb, Jake
Willis, H&M, dan lainnya. Booth
sponsor tersebut menawarkan berbagai kegiatan seperti games, tempat duduk untuk
sekedar beristirahat, juga freebies
berupa goodie bag juga foto siap
cetak.
Setelah memuaskan perut dan
mengistirahatkan diri sejenak. Saya dan Ayu kembali menuju Bay Stage pada
sekitar pukul 17.00 untuk menonton Hermitude. Duo electronic hip-hop asal Australia ini membawakan hits meeka yaitu
“The Buzz” dan “Ukiyo” yang membuat penonton bersorak. Walaupun menurut saya
saat itu masih terlalu ‘pagi’ untuk musik elektronik, tapi Hermitude tetap
berhasil membuat para penonton melompat dan bergoyang hingga set mereka
berakhir.
Setelah Hermitude selesai, banyak
orang berbondong-bondong menuju Bay Stage karena penampil berikutnya adalah The
1975, band yang tengah digandrungi. Para pria asal Manchester ini membuka
penampilan mereka dengan single
terbaru mereka “Love Me” dan penonton ikut bernyanyi. Matt Healy –frontman band
The 1975- membuka kancing kemejanya ditengah set dan penonton khususnya para
perempuan berteriak histeris. Cukup sulit bagi saya untuk bernafas saat itu karena penonton yang begitu padar sehingga saya harus berusaha mendapatkan
oksigen. Panggung Bay Stage dihiasi oleh lampu neon khas The 1975 yang begitu
terang sebagaimana penampilan mereka yang begitu memukau. Setelah membawakan 12
lagu termasuk lagu hits mereka yaitu “Girls”, “Chocolate”, dan “Sex”, The 1975
pun melakukan bow-down untuk
mengakhiri penampilan mereka.
Kemudian saya bergeser ke Garden
Stage yang hanya bersebelahan dengan Bay Stage untuk penampilan band favorit
saya, CHVRCHES. Sambil menunggu, saya menikmati penampilan Grimes yang berada
di panggung Bay Stage. Mungkin saya bukan fans berat Grimes, tapi saya begitu
takjub dengan penampilanya yang solid dan penuh energi. Dengan memakai bando
pita merah yang besar serta beberapa penari latar, Grimes menghipnotis penonton
dengan musik synth-pop-nya.
The
wait is over. Akhirnya CHVRCHES akan tampil. Ini bukan kali pertama
CHVRCHES tampil di St. Jerome’s Laneway Festival Singapore, tapi ini
pertama kalinya saya dapat melihat mereka secara langsung. Suara Lauren
Mayberry yang manis namun terdengan rapuh menyapa penonton. Lauren juga bilang
bahwa ia tidak pernah merasakan udara sepanas ini, saya membatin bahwa bukan
dia saja yang merasa seperti itu. Penampilan CHVRCHES pun dibuka oleh lagu
“Never Ending Circle” dari album terbaru mereka “Every Open Eyes”. Penonton
begitu menikmati penampilan enerjik CHVRCHES dan tata panggungnya yang indah.
Lagu klasik mereka, “The Mother We Share” menutup penampilan yang memukau
tersebut.
Saya punya pengalaman yang tidak
terlupakan saat menonton CHVRCHES. Karena St. Jerome Laneway Festival Singapore
memperbolehkan minuman beralkhol, cukup banyak dari penonton yang tidak berada
dalam keadaan sadar. Ada satu penonton, seorang bule, yang terlihat cukup
mabuk. Ia dan beberapa temannya mencoba menerobos kedepan dan mendorong
penonton lain. Hal ini mengakibatkan bule tersebut bertengkar dengan penonton
lain hingga ia menyiramkan minumannya ke penonton tersebut. Teman salah satu
bule itu kemudian menyiramkan minumannya dan tidak sengaja mengenai mata saya.
Disitu saya hampir menangis karena mata saya begitu perih. Tiba-tiba penonton
lain dibelakang saya dengan baik hati memberikan air mineralnya, penonton lain
pun memberikan tisu mereka. Seorang pria, yang saya yakini orang Singapura,
bertanya apakah saya baik-baik saja. Pertama kali dalam hidup saya menonton
konser, saya mendapat kebaikan dari orang-orang yang saya tidak kenal seperti
ini. Akhirnya bule dan teman-teman mabuknya pun pergi dan saya serta penonton
yang membantu saya kembali menikmati penampilan CHVRCHES.
Waktu menunjukan sekitar pukul 00.15
ketika Flume menutup St. Jerome’s Laneway Festival Singapore dengan cover lagu “You
and Me” dari Disclosure. Penonton kemudian berbondong-bondong meninggalkan
venue dan menuju tempat –tempat untuk mencari kendaraan pulang.
St. Jerome’s Laneway Festival memang
merupakan konser pertama saya di luar negeri, namun pengalaman yang saya
dapatkan sungguh luar biasa. Tidak hanya saya dapat menyaksikan langsung
penampilan dari band-band kesukaan saya, saya juga merasakan kebaikan dari orang-orang
yang saya tidak kenal. Menyanyikan lagu kesukaan saya sepenuh hati bersama
penonton-penonton lain. Saya dapat menghabiskan waktu bersama sahabat saya
menikmati musik yang kami suka. Itu kebahagiaan yang akan selalu saya hargai.
18.8.16
Memilih Untuk Tidak
Aku ingin menyukaimu,
Namun aku memilih untuk tidak
Tidak sekelibatpun menyukaimu
Karena kau begitu indah
Layaknya suatu yang utopia
Aku dapat menyayangimu,
Namun aku memilih untuk tidak
Tidak sebersitpun memiliki rasa sayang
Karena kau bagaikan sebuah pelangi
Namun diriku selalu menantikan hujan
Aku bisa mencintaimu,
Namun aku memilih untuk tidak
Karena kata cinta adalah picisan
Ketika tak bermakna
Dan tak memberikan masa depan
Walau mungkin
Kata yang terucap tak selaras
Dengan rasa yang diserukan hati
Namun aku memilih
Membiarkan aku dan kamu
Hanya dihubungkan dengan sebuah 'dan'
Tanpa perlu menjadi kita
8.5.16
Review : AADC?2
Ini dia, film Indonesia yang paling ditunggu abad ini (berlebihan), film yang menjadi jawaban atas segala pertanyaan (juga berlebihan).
Filmnya adalah........... (drum roll) ............ ADA APA DENGAN CINTA? 2
Film ini merupakan sekuel dari Ada Apa Dengan Cinta? (2002), yang dianggap merupakan tonggak kembalinya film-film Indonesia yang berkualitas. Hampir semua orang terkena 'demam' AADC, mulai dari buat puisi-puisi 'nyastra' ala-ala Rangga, bikin dance genk ala genk Cinta, maupun memakai jepit kupu-kupu besar ala Cinta. Pokoknya, kehidupan remaja yang hype banget!
Nah di sekuel ini, Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC 2) kembali menyuguhkan persahabatan antara Cinta (Dian Sastrowardoyo), Karmen (Adinia Wirasti), Maura (Titi Kamal), dan Milly (Sissy Prescillia), dan juga kisah cinta serial yang belum terjawab antara Cinta dan Rangga (Nicholas Saputra).
Sinopsis
Cinta, yang 14 tahun lalu adalah ketua mading, telah beranjak dewasa dan memiliki galeri seni sendiri. Cinta mengundang teman-temannya untuk datang ke galerinya, sekedar reuni kecil-kecilan. Tentu keadaan genk Cinta semua sudah berubah, Milly menikah dengan Mamet (Dennis Adhiswara), iya, Mamet yang itu, dan saat ini tengah mengandung anak pertama. Maura juga sudah menikah dengan Chris (Christian Sugiono) dan memiliki 3 anak. Karmen, yang harus bergulat dengan kenyataannya, ditinggal suami dan mencari pelarian kepada obat-obatan terlarang. Dan Cinta, yang telah bertunangan dan akan menuju babak baru di kehidupannya bersama Trian (Ario Bayu). Mereka berkumpul di galeri seni Cinta, membahas keadaan yang sudah berubah seiring mereka yang juga tumbuh dewasa. Karena telah lama tidak menghabiskan waktu bersama, Cinta and the gank sepakat liburan bersama di Yogyakarta.
Di belahan dunia lainnya, tepatnya di New York, Rangga masih berkutat dengan tulis-menulis puisi. Mengarungi jalanan New York di musim dingin, ia kemudian pergi menuju sebuah kafe kecil miliknya. Ya, Rangga sekarang adalah penulis, fotografer, dan pembisnis. Datang seorang gadis membawa pesan yang lebih menusuk dibanding dinginnya kota New York, gadis itu adalah adik tiri Rangga. Rangga dihadapkan pada sesuatu yang tak pernah ia nanti, bertemu dengan sosok Ibu yang telah absen dari 25 tahun kehidupannya.
Di Yogyakarta, Cinta dan Rangga kembali dipertemukan oleh takdir, setelah 9 tahun yang lalu hubungan mereka berakhir tanpa alasan. Cinta awalnya menolak untuk bertemu kembali dengan seseorang di masa lalunya, yang ia anggap sudah menjadi prasasti di kehidupannya. Dorongan dari teman-temannya membuat Cinta sadar, ia menginginkan perdamaian, perdamaian dengan masa-lalunya, perdamaian dengan Rangga. Rangga sendiri juga ingin berdamai, berdamai dengan Cinta, berdamai dengan ibunya, dan berdamai dengan dirinya sendiri.
Akankah Cinta dan Rangga kembali bersama?
Atau Cinta akan bersama Trian?
Dan kemanakah Alya?
Tonton Ada Apa Dengan Cinta? 2 di Bioskop kesayangan anda!
Review
(MIGHT BE SPOILER)
Sebelumnya, udah saya ingatkan ya saya mungkin spoiler di bagian review ini. Setelah membaca tulisan ini, gue nggak bertanggung jawab atas ekspektasi dan harapan kalian saat menonton filmnya :p
Saking keponya, saya udah membaca beberapa review film AADC?2 dari beberapa sumber, and it's totally mixed review! And thanks for that, sayamenjadi semakin kepo dan ingin menentukan sendiri dengan menonton filmnya.
Film garapan Miles Production dengan Mira Lesmana sebagai Produser dan Riri Riza sebagai Sutradara menggaet sineas-sineas yang memang sudah biasa menjadi tim dalam menggarap film-film dari Miles sebelumnya. Sebut saja Yadi Sugandi (Laskar Pelangi, 3 Hari Untuk Selamanya) sebagai Sinematografer, W. Ichwan Diardono (Laskar Pelangi, Atambua 39 derajat Celcius) sebagai Editor. Melly Goeslaw - Anto Hoed juga kembali didapuk sebagai penata musik dan pembuat soundtrack sebagaimana film pertamanya.
Saya mau membahas dulu ya beberapa segi teknik yang saya tau, atau dengan sedikit (banyak) ke-sok tahu-an saya. Saya sangat sangat sangat sangat menyukai color tone AADC?2, kayak somehow nyambung sama film pertamanya. Ada rasa-rasa nostalgia selain dari cerita yang saya rasakan berkat color tone itu. Urusan sinematografi dan pengaturan gambar nggak usah diragukan lagi, benar-benar jempolan. menyuguhkan gambar-gambar yang begitu memanjakan mata, baik di Jakarta, New York, maupun Yogyakarta. Menurut saya, penggambaran Yogyakarta begitu unik dengan sisi yang berbeda, sisi sebagai tempat wisata yang khas. Bagian yang paling saya suka adalah saat Cinta dan Rangga menonton sebuah papermoon puppet show, gambar yang disuguhkan begitu indah dan intens hingga saya terlarut emosi dibuatnya. Dari segi editing juga tidak perlu diragukan lagi. Ada satu scene yang saya dapatkan terjadi jump-cut, yaitu scene ketika Cinta dan Karmen melakukan Yoga. Namun hal ini tidak berdampak apapun pada keseluruhan film. Saya kurang memahami segi sound dan scoring, namun saya merasa penempatan lagu OST AADC?2 tepat untuk membangun emosi penonton.
Berikutnya saya membahas karakter dan akting, i do love how the characters develop through times. Cinta yang masih sensitif, namun dengan pikiran dan tindakan yang lebih dewasa. Karmen yang masih galak, namun menjadi lebih bijak. Maura yang masih centil, namun menjadi sosok yang lebih perhatian. Milly masih masih lucu dan menggemaskan, dengan celetukan-celetukan di timing yang pas. Perubahan karakter yang paling menganggetkan buat saya adalah karakter Rangga, masih kaku dan sinis, but somehow cheesy. Cheesy is not always a bad thing, Rangga yang menjadi cheesy menurut saya berhasil membuat Cinta dan penonton (khususnya perempuan) tersenyum mesem-mesem sendiri. Sebagai penonton, saya tidak merasakan para pemain AADC?2 memerankan sesuatu yang dibuat-buat. Persahabatan genk Cinta begitu mengalir, penonton pun dibuat seperti 'reuni' dengan teman-teman lama. I praise Dian Sastrowardoyo khususnya scene Cinta memberikan alasannya mau bertemu dengan Rangga, parah, maksimal. Dan teruntuk Sissy Prescillia, yang membuat karakter Milly begitu hidup dan sangat berkesan.
Terlihat pada poster AADC?2, dimana Rangga yang mengisi posisi Cinta di poster film pertamanya. Film ini juga lebih fokus pada kehidupan Rangga, dan perspektif Rangga pada kisahnya dengan Cinta. Kisah kehidupan Rangga di'gali' lebih jauh, sehingga Rangga menjadi sosok yang lebih dikenali. Penonton diajak menjadi Cinta, yang menginginkan jawaban dan penjelasan dari Rangga.
But there's no flashback scene in this film, seakan memang membiarkan yang lalu menjadi berlalu. Penonton, baik yang memang menonton dari film pertama, maupun penonton baru dari generasi yang baru, tidak harus terikat dengan film pertamanya. AADC?2 menjadi sekuel, namun tetap bisa berdiri sendiri.
Pada beberapa review yang saya baca, banyak yang terganggu dengan ads placement di film ini. Saya pribadi tidak merasa terganggu karena saya masih merasa dapat menoleransi karena produk-produk tersebut ditempatkan pada scene yang sesuai.
Nah, ini yang mungkin sedikit spoiler ya, saya pribadi menyukai jalan cerita kisah Cinta-Rangga. Sangat relevan menurut saya, tidak terlalu klise. Alasan Rangga meninggalkan Cinta pun menurut saya dapat dipertanggungjawabkan, i can understand the reason. Sebagai penonton, saya menyeletuk "ooh gitu toh" pada saat Rangga menjelaskan alasannya meninggalkan Cinta. Namun saya #TeamCinta ketika ia bilang "Kita nggak pernah ngebahas ini dulu.". Yes, alasan tersebut hanya menjadi kenyataan bagi Rangga selama ini, namun Cinta tidak pernah mengetahui kenyataan tersebut. Dialog-dialog singkat antara dua orang yang pernah saling menyayangi, dan tersirat bahwa masih ada rasa. Puisi-puisi karya Aan Mansyur benar-benar membuat hati saya bergeming.
Batas
(karya Aan Mansyur)
Semua perihal diciptakan sebagai batas. Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita.
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.
Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya. Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan. Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.
Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi
Satu kata; mampuy.
Saya tertohok dibuatnya.
Sepanjang menonton filmnya saya sama sekali tidak merasa terganggu dengan jalan ceritanya, it all makes sense. Namun setelah menonton dan berpikir sejenak, saya cukup merasa ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang terlalu diburu-buru. Penyelesaian seakan disuguhkan seperti this is how the audience wants, saya pribadi mengharapkan lebih banyak detail dari penyelesaian tersebut. Celetukan-celetukan politik diselipkan saat Rangga mengaku selalu mengikuti pemilu dan bertanya pada Cinta apakah ia menyesal dengan Presiden pilihannya. Namun celetukan politik di AADC?2 tidak sebanyak AADC? yang saat itu dibawa melalui kisah ayah Rangga.
Over all my whole AADC?2 experience was soooooo good. Saya begitu bernostalgi dan somehow bisa memahami jalannya kisah cinta dengan penjelasan ini. Penjelasan, sesuatu yang mahal dan susah didapat oleh dua insan yang pernah saling berbagi rasa. Dan tentu film ini menambah referensi saya khususnya tempat wisata di Yogyakarta, saya sangat ingin menonton papermoon puppet show karenanya. And for my own personal reason, AADC?2 seakan pula memberikan jawaban atas pertanyaan perasaan saya sendiri.
Tunggu apalagi? Nonton Ada Apa Dengan Cinta?2 Di Bioskop!
Bonus (KLIK!)
30.10.15
Analogi : Biru
Ia teriak, ia tenggelam
Ia terisak, ia terdiam
Perih, katanya
Sedih, rasanya
Ia hanyut terbawa kenangan
Ia larut terpaku angan
Lalu ia biarkan waktu berlalu
Sehari, Seminggu, Sebulan, Setahun
Bahkan lebih
Hanya meredam rasa perih
Sudah ia biarkan semua berlalu
Hasilnya?
Ia menemukan dirinya
Disini, kembali
Angin membelai rambutnya lembut
Debur ombak mengisi heningnya fajar
Ia mendengus
Ia memekik
Berdiri menghadap cakrawala
Bertumpu dengan nostalgi
Secercah harapan, segelintir rasa
Aku menatap
Aku meratap
“Biarkan langit sebiru rasamu” kataku
“Laut sudah biru, mengapa harus ditambah langit?” katanya
Dan disini pula ku temukan
Diriku, bukan, seluruh raga dan jiwaku
Menemaninya
Mendukungnya
Menjaganya
Ia yang masih terjebak masa lalu
Dan aku
Yang masih terjebak menyayanginya
Tidak Aku tidak terjebak
Aku hanya menyayanginya
Sangat menyayanginya
Pelik
Ingin pula aku memekik
“Adakah artiku?”
“Tak bisa kah ku hapus masa lalumu?”
Namun kusadari
Aku hanya menjadi pantai baginya
Tidak akan pernah menjadi laut
Atau samudera
Aku hanya tempat untuk singgah
Bukan untuk diarungi
Ia singgah di pantai
Ia terus menatap laut
Ia terus mendambakan samudera
Dan aku yang terus menyayanginya
Pria yang tenggelam di masa lalu
6.9.15
Lessons learned
Saya menangis dua kali hari ini karena dua hal
Hal pertama, karena menyadari betapa ignorantnya saya
Hal kedua, karena menyadari bahwa this world is not okay, and never be (yet)
1.
Entah mungkin hanya otak saya yang berpikir semua itu berjalan how it's supposed to be. Seperti takdir sudah menentukan jalan apa yang akan diambil, tindakan apa yang sesuai, dan siapa yang menerimanya. Oke, karena saya yakin apa yang baru saja anda baca sulit untuk dicermat, saya akan mencoba mengulangnya sekali lagi kali ini dengan lebih ringkas dan mudah dicerna. Saya berpikir bahwa tindakan saya adalah what it is. Semua berjalan otomatis, saya yakin bahwa tindakan saya otomatis diterima orang lain karena status dan peran mereka terhadap hidup saya. Dan itu adalah kesalahan besar. No matter who they are, mereka adalah individual human being. Mereka punya perasaan yang tidak semerta-merta secara otomatis menerima tindakan. Sebagai contoh, kesalahan saya kepada adik saya. Saya berpikir karena dia adik saya, dia dapat menerima saya sebagaimana adanya, seburuk apapun itu. Kebiasaan saya adalah ketika saya marah, saya menjadi diam dan jutek, menjawab dengan ketus. Dan kebiasaan itu yang harus diterima oleh adik saya, dan saya menganggap bahwa dia sanggup menerimanya. Saya berpikir, atau bahkan tidak berpikir, saya hanya merasa bahwa he's gonna be fine with that because he's my brother. Dan hari ini ia membuktikan bahwa he's not fine at all. And worse, i don't realize it, not even ever crossed my mind.
And i asked myself,"how can you be such an ignorant bitch all this time?"
And then i cry
Not only because what i've done, but also the way i never think about it
I never want to hurt anybody
But still, i hurt somebody without realising it
And it makes me cry harder
But crying is not the solution, saya kemudian merefleksikan diri, apa saja yang telah saya perbuat, dan kepada siapa saya melakukannya. Dan saya menyadari betapa tidak sadarnya saya telah menyakiti orang lain.
The idea of hurting people hurts me the most.
Hurt disini bukan saya menampar atau memukul seseorang, namun menyakiti hatinya, batinnya, perasaanya, pikirannya, yang tidaklah lebih baik daripada menyakiti fisiknya. Hal yang bisa diambil bagi saya, anda, siapa saja adalah jangan pernah lupa bahwa setiap orang merupakan invididu yang mempunyai perasaan dan batas masing-masing. Mau apapun peran dan status mereka bagi kita, ayah, ibu, adik, kakak, sahabat, pacar, orang terdekat, mereka adalah diri mereka sendiri. Jangan merasa karena kita adalah anak dari ibu kita, kita menganggap bahwa mereka akan menerima saja perlakuan kita. Ya, mereka mungkin nggak akan ngomong secara gamblang, tapi mereka tetap merasakannya.
For anyone that has been hurt by me, i'm sorry. I mean it, i really really sorry.
Bukan berarti kita harus menjadi orang lain,
It's okay to be who you are, but never be an ignorant person.
Semakin dewasa, semakin kita mencoba mengenal diri kita lebih baik. Tidak hanya apa potensi terbaik kita, namun juga mengetahui keburukan yang kita miliki.
Dan mulai sekarang saya mencoba dan berusaha, menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
2. Saya baru saja menghabiskan satu setengah jam "menyiksa" diri saya sendiri dengan menonton film No Escape. Rasanya hati saya tercabik saat menonton film tersebut. Despite the review, great or not, this film makes me think hard. Membuat saya melihat diri saya sebagai orang yang kurang berguna.
Sebelum menjelaskan lebih lanjut, saya akan memberikan sedikit sinopsis dari film No Escape. Film No Escape menceritakan Jack (Owen Wilson) yang memboyong keluarganya dari Texas untuk pindah ke third world di wilayah Asia Tenggara untuk bekerja pada perusahaan air bersih asal Amerika. Ternyata perjanjian air bersih tersebut mengakibatkan pemberontakan dan membunuh perdana menteri negara tersebut. Para pemberontak pun merusak kota dan memburu target mereka, yaitu orang asing khususnya Amerika yang dianggap telah menjajah dan membohongi mereka. Penonton akan disuguhkana adegan Jack, Istrinya, dan kedua anak perempuannya mencoba menyelamatkan diri dari negara tersebut.
Beberapa adegan begitu menampar saya keras, a wake-up slap.
(WARNING! THIS MAY CONTAIN SPOILER)
Adegan yang menohok saya adalah ketika Hammond (Pierce Brosnan) seorang ekspatriat mengatakan bahwa dirinya lah yang mengakibatkan pemberontakan terjadi, para ekspatriat seperti dirinya. Para ekspatriat datang dengan bersahabat, mencuri hati para petinggi negara. Kemudian melakukan kerjasama hal-hal penting bagi negara itu, sarana air bersih, jembatan, apapun yang sebenarnya tidak penting bagi para ekspatriat tersebut. Memberikan pinjaman dengan mudahnya, padahal mereka tau bahwa negara tersebut tidak akan sanggup membayarnya. Kemudian setelah negara tersebut terlilit utang, they eventualy owns it. Bentuk penjajahan modern. Itulah kutipan dialog film yang saya interpretasikan.
Tidak, adegan tersebut tidak menampar saya karena saya berada pada sisi para ekspatriat. Namun menyadarkan saya bahwa negara-negara penanam modal itu butuh disadarkan bahwa kerakusan mereka adalah bumerang. Menyadarkan bahwa sesungguhnya upaya penjajahan masih ada.
Saya berpikir ringkas, kenapa? apakah tidak bisa hanya bekerja sama?
Bisa, sebenarnya bisa jika salah satu pihak tidak rakus. Namun, sangat disayangkan bahwa rakus adalah salah satu sifat manusia yang sulit terelakkan.
Adegan lain, ketika wanita menjadi korban, tidak hanya jiwa mereka yang direnggut namun juga kehormatannya. Ketika Annie (Lake Bell) mencoba menyelamatkan suaminya Jack dan mengakibatkan dirinya ditangkap oleh para pemberontak. Kemudian para pemberontak tersebut mencoba memperkosanya. Dan yang lebih menyayat, mereka membuat Jack menyaksikannya. Thank god hal tersebut tidak terjadi karena Hammond menyelamatkan mereka di waktu yang tepat. Sebagai seorang wanita, saya begitu meringis, meradang melihatnya. Bahwa hal tersebut adalah kenyataan yang terjadi membuat perasaan saya perih. Saya tidak melihat diri saya sebagai seorang feminist, namun mau apapun jenis kelamin anda jika anda memiliki perasaan, hal tersebut tidak manusiawi. Lust, sifat manusia lainya yang sangat disayangkan dan tidak terelakan. Rasanya lebih baik mati dengan kehormatan, namun kadang pilihan itu tidak ada.
Sebenarnya saya menangis bukan hanya karena film tersebut, tapi saya menyadari bahwa apa yang terjadi di film tersebut juga tengah terjadi pada dunia ini, detik ini.
And it crushed my feelings.
Ketika saya membaca berita-berita mengenai pengungsi Suriah yang tengah mencoba menyelamatkan diri ke Eropa membuat saya membayangkan apa yang tengah terjadi di negara tersebut. Mereka terusir dari negeri mereka sendiri. Dan tidak diterima oleh negara lain. Namun berita terakhir yang saya baca adalah akhirnya pemerintan Hungaria membantu para pengungsi (yang diberita disebut imigran) untuk berangkat menuju Austria agar dapat memulai kehidupan baru. Berita lain yang menyayat hati adalah terdamparnya seorang mayat anak laki-laki berusia 3 tahun di perairan Turki. Anak malang tersebut adalah salah satu korban dari mereka yang tenggelam di perairan mediterania yang tidak berhasil menyelamatkan diri.
Membaca headlines BBC Indonesia "Bocah Tiga Tahun Membayangi Kebijakan Dunia pada G20" membuka mata saya. Saya mengutip pidato Perdana Menteri Turki, Davutoglu.
"Tubuh bocah tiga tahun itu adalah peringatan bagi kita. Jika anak-anak di Suriah tidak aman, maka anak kita tidak akan aman di Ankara, Paris atau New York. Karena anak-anak ini tidak bisa memutuskan dimana mereka lahir, ini takdir. Tapi keputusan kitalah (dalam membuat kebijakan) yang akan menentukan nasib mereka di masa depan,"
Ketika anak-anak yang menjadi korban, bukan hanya diri mereka yang meninggal, namun generasi mereka juga akan mati. Untuk menghancurkan suatu bangsa, tidak perlu menghabisi para petinggi, dengan membunuh generasi muda, maka habis pula masa depan suatu negara. Oleh karena itu, perlu kesadaran bahwa anak-anak adalah masa depan yang perlu dilindungi.
Dan hal lain yang membuat saya meringis, lagi-lagi how ignorant am i.
Saya mempermasalahkan hal-hal yang buat teman-teman saya seperti di Suriah adalah hal-hal tidak penting.
Saya pusing memikirkan baju apa yang akan saya kenakan besok, sedangkan mereka memikirkan apakah mereka masih bisa bertahan hingga besok.
Saya stress membayangkan tugas-tugas kuliah saya, sedangkan mereka memikirkan keberadaan anggota keluarga mereka yang tidak dapat melarikan diri dari negaranya.
Saya sedih melihat berat badan saya yang naik, sedangkan mereka sedih melihat adik-adiknya mengais remah roti di jalan karena kelaparan.
Hal ini mendukung saya menjadi pribadi yang lebih berguna bagi orang lain, atau setidaknya tidak merugikan orang lain.
Mungkin bumi ini tidak baik-baik saja, dan mungkin tidak akan pernah baik-baik saja. Namun keinginan saya adalah kehidupan saya berarti bagi orang lain. Saya ingin meninggalkan jejak bagi mereka yang dilanda kesusahan dapat mengikuti dan membantu mendapatkan awal baru. Saya ingin diri saya berharga, bukan karena harta atau jabatan yang saya miliki, namun karena saya bisa berguna bagi orang banyak.
Tidak, saya tidak mendeklarasikan diri saya menjadi Mother Theresa dan menginginkan hadiah Nobel. Saya hanya ingin menjadi manusia yang berguna, menjadi manusia yang seutuhnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)



